Wednesday, October 5, 2011

Potensi Pariwisata Kabupaten Ciamis



Pangandaran adalah Objek wisata di Kabupaten Ciamis yang merupakan primadona pantai di Jawa Barat ini terletak di Desa Pananjung dengan jarak 92 km dari Kota Ciamis ke arah selatan. Dari arah Bandung berjarak sekitar 212 KM dengan melewati jalur Bandung – Ciamis – Banjar dan Pangandaran. Untuk menuju lokasi Pantai Pangandaran tidak lah sulit. Karena jalur jalan yang ada infrastrukturnya sangat memadai. Semua ruas jalan menuju Pantai Pangandaran sudah diaspal hotmix secara baik.

Bagi pengunjung yang tidak menggunakan kendaraan pribadi, maka dapat menggunakan jalur angkutan umum. Bila dari Kota Bandung dapat menggunakan Bus atau travel kearah Pangandaran langsung. Atau bila dengan bus bisa singgah dulu di Kab. Ciamis dan kemudian menggunakan bus atau mobil jenis elf menuju Pangandaran. Kandaran tersebut hadir setiap saat hingga pukul 10.00 malam.

Pantai Pangadaran memiliki berbagai keistimewaan, yaitu, kita dapat melihat terbit dan terbenamnya matahari dari tempat yang sama. Pantainya landai dengan air yang jernih serta jarak antara pasang dan surut relatif lama sehingga memungkinkan orang untuk berenang dengan aman. Kemudian, terdapat pantai dengan hamparan pasir putih yang luas dimana setiap pengunjung bisa melihat batu karang dan ikan-ikan hias dengan jelas. Pada pesisir pantai pasir putih ini pengunjung bisa melakukan penyelaman.

Untuk keselamatan pengunjung wisata pantai terdapat Tim Penyelamat atau Balawista yang dilengkapi peralatan pengmanan. Mereka setiap saat senantiasa beroperasi di pantai-pantai khususnya pantai Selatan. Berjaga-jaga dari kemungkinan adanya pengunjung yang tenggelam.

Di Kawasan Pangandaran, tidak saja merupakan kawasan pantai, tapi juga terdapat kawasan cagar alam seluas 530 Hektar yang didalamnya terdapat Goa-Goa Alam yang terbentuk ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Terdapat pula Goa Belanda sebagai tempat persembunyian tatkala mendapat serangan tentara Sekutu.

Goa Alam yang terbentuk itu didalamnya terdapat bebatuan stalagtit (endapan berbentuk batuan keras) dan batu-batuan granit yang menggantung di langit-langit goa. Bantuan granit itu bila disorot dengan lampu senter, akan mengeluarkan cahaya yang indah.

Terdapat empat buah goa, yaitu meliputi : Goa Lanang, Goa Rengganis, Goa Sumur Mudal, dan Goa Miring.
Disbut Goa Lanang karena didalamnya terdapat bantuan endapan yang berbentuk seperti kemaluan laki-laki. Disebut goa Rengganis, karena disana terdapat sumber mata air jernih dan tawar yang konon dahulunya menjadi tempat Dewi Rengganis mandi ketika abad kerajaan Sunda yang berpusat di Ciawi Ciamis. Barangsiapa yang mandi atau mengusap muka, konon akan segera mendapatkan jodoh. (ini hanya sekedar dogeng).

Disebut Goa Miring, karena kalau masuk kedalamnya harus memiringkan badan sejauh 30 meter dan bila tidak, maka tidak akan bisa masuk. Kemudian, disebut Goa Sumur Mudal, karena didalamnya terdapat sumber air yang terus-menerus menetes dan ketika ditampung dengan enber atau tempat lainnya akan “mudal”, airnya tumpah karena penuh.

Di Pantai Pangandaran, setiap pengunjung dapat melakukan antara lain berenang, berperahu pesiar, memancing, keliling dengan sepeda, para sailing, jetski, dan lain-lain.

Infrastruktur lainnya yang tersedia dan menjadi persyaratan suatu kawasan wisata yaitu, adanya Lapang Parkir yang cukup luas. Hotel, restoran, penginapan, pondok wisata dengan tarif yang bervariasi. Pelayanan pos, telekomunikasi dan money changer. Gedung bioskop, diskotik. Pramuwisata dan Pusat Informasi Pariwisata. Bumi perkemahan. Sepeda dan ban renang sewaan, parasailing, jetski, banana boat.

Atraksi wisata yang rutin diselenggarakan antara lain: Festival Layang-Layang/Pangandaran Kite Festival, Pemilihan Putra Putri Pariwisata, Hajat Laut, Pangandaran Lautan Scooter, dan lain-lain.

Fasilitas yang menjadi hal pokok bagi kawasan pantai, kini sudah lengkap tersedia di Pantai Pangandaran. Kawasan perhotelan dari mulai tingkat melati sampai hotel berbintang. Bungalow dan penginapan untuk keluarga bertebaran di sekitar pantai Pangandaran. Rate harganya cukup kompetitif . Di hari biasa, harganya berkisar Rp 100 ribu-an sampai Rp 250 ribuan. Di hari week end atau hari libur / hari raya harga bergerak naik dengan pertambahan sekitar 10 % hingga 20 %. Perubahan ini secara rutin dilakukan.

Read More...



Sunday, January 30, 2011

Biaya Kuliah di Perguruan Tinggi Negeri



Biaya Kuliah di Perguruan Tinggi Negeri bisa mencapai Rp. 65 juta pertahuan. Jumlah yang dinilai secara sepihak tampak sangat besar. Berdasarkan kesimpulan dari kajian Pemerintah bahwa perguruan tinggi negeri kini harus membayar uang kuliah puluhan juta rupiah per tahun. Berdasarkan kajian pemerintah, biaya setiap mahasiswa di kampus negeri berkisar Rp 10 hingga 62 juta per tahun.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Mahasiswa Institut Teknologi Bandung Carmadi Mahbub mengatakan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional telah mengkaji perhitungan rata-rata biaya kuliah mahasiswa di perguruan tinggi negeri di Indonesia sejak tahun lalu. "Tapi sampai saat ini belum ada hasil tertulis, baru lisan," ujarnya seusai sosialisasi penerimaan mahasiswa ITB baru lewat jalur undangan di Aula Timur ITB, Jumat (28/1).

Menurut dia, unit cost tiap program studi berbeda-beda. Tapi ada tiga kategori yang menjadi acuan bagi kampus negeri. Biaya kuliah mahasiswa ilmu sosial, kata dia, sebesar Rp 17 juta per tahun. Sedangkan mahasiswa ilmu teknik Rp 23 juta.
"Mahasiswa kedokteran tiga kali lipat atau Rp 51 juta," ujarnya saat sosialisasi kepada ratusan kepala sekolah tentang penerimaan mahasiswa ITB jalur undangan di Aula Timur ITB, Jumat (28/1).

Dihubungi terpisah, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Djoko Santoso mengatakan, kajian biaya kuliah mahasiswa di seluruh kampus negeri berdasarkan wilayah. "Kajian itu untuk menentukan besaran dana bantuan dari pemerintah ke PTN," katanya, Jumat (28/1).

Biaya kuliah mahasiswa ilmu sosial per tahun berkisar Rp 10-17 juta. Mahasiswa ilmu teknik Rp 14-20 juta. Sedangkan mahasiswa kedokteran Rp 32-62 juta.

Ragam besaran itu, katanya, tergantung wilayah keberadaan kampus negeri. Untuk di daerah perkotaan dan berada di Pulau Jawa, Bali, serta Papua, biaya kuliahnya tergolong paling tinggi. Adapun biaya kuliah di kawasan Pulau Sumatera tergolong menengah. Sedangkan yang masih cukup murah, berada di Kalimantan dan Sulawesi.

Menurut Djoko, selama ini tidak ada kampus negeri yang mematok tarif biaya kuliah melewati kisaran maksimal hasil kajian kementerian tersebut. "Tidak ada yang lebih, malah kurang," katanya.

Read More...



Arifin Panigoro Akan Sambut Kepindahan Persib



Pengusaha yang juga penggagas kompetisi Liga Primer Indonesia atau LPI, Arifin Panigoro, menyambut baik dan antusias jika Persib Bandung pindah dari Indonesia Super League (ISL) ke LPI.

Menurut Arifin, jika Persib bergabung dengan LPI akan memberikan warna kompetisi yang saat ini sudah berlangsung.

“Bagus kalau Persib masuk,” ucapnya

Arifin mengaku, hingga saat ini pihaknya belum ada pembicaraan resmi dengan manajemen Persib terkait rencana kepindahan tim "Maung Bandung" ke LPI.

“Kita belum mengadakan pembicaraan dengan Persib, sebentar lagi,” ucapnya.

Arifin menyatakan, jika kedepan banyak klub yang bergabung ke LPI kemunginan besar akan dibagi menjadi dua zona wilayah, barat dan timur.

Read More...



Serial Buku SBY belum Dievaluasi



Dinas Pendidikan Jawa Barat (Jabar) melalui tim kurikulumnya belum melakukan evaluasi terkait dengan buku tentang SBY yang sejak beberapa tahun beredar di sebagian sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Jabar Zarkasih, Minggu (30/1), mengungkapkan pihaknya masih berkosentrasi mengevaluas buku-buku pelajaran di sejumlah sekolah.

"Kami belum berencana mengevaluasi buku tentang SBY," ujarnya.

Untuk sementara, ia menambahkan jika memang disdik kota dan kabupetan dI Jabar, termasuk Cirebon, ingin menarik buku tersebut, itu tidak ada masalah karena buku dari dana alokasi khusus (DAK) itu merupakan kewenangan pemerintah kota dan kabupaten setempat.

"Disdik Jabar tidak akan intervensi terhadap penarikan buku (tentang SBY) tersebut. Itu merupakan kewenangan dan otoritas tim kurikulum kota dan kabupaten," ujarnya.

Buku-buku yang menjadi prioritas evaluasi kurikulum, yaitu yang dibiayai dana APBD. "(Evaluasi) di luar itu, termasuk buku SBY, belum kami laksanakan."

Read More...



Friday, January 28, 2011

Baju Panganten Pulas Emas



Ku Us Tiarsa R.

Ari embung, rek kumaha deui? Saleuheung teu bogoh wungkul mah, kapaksa-kapaksa oge meureun daek we ngalayanan. Ieu mah keur teu bogoh teh, ah, teu hayang we. Ongkoh awak asa pasiksak tas nangtung meh opat jam. Teu mararatut-mararatut oge diberenyeh-berenyehkeun biwir teh, ambeh katembong rada amis, tamba jamedud teuing.

Kakara bisa cucul-cucul teh ngahaeub ka magrib. Mani asa areungap. Tuur leklok. Leungeun ge karasa cangkeul. Balas sasalaman. Lain hajat leuleutikan. Bapa sasat mupugkeun tali kanjut. Hajat pamungkas. Euweuh deui kawinkeuneun. Ondangan nu datang ge leuwih ari sarebu mah. Kahayang kuring hajat di hotel bintang opat teh. Ambeh ari beres teu kudu gura-giru balik, da disayagikeun kamar dua. Nu hiji mah suit room keur honey moon. Nu hiji deui VIP, bisi aya kulawarga nu rek marengan. Digugu, da nu mayarna, bapana Mas Edo. Dina emprona mah taya saurang-urang acan nu maturan. Salurti kituna mah. Paduduaan we.

Kaciri kolot teh barungaheun pisan, kuring daek dikawinkeun tereh-tereh teh da tadina mah teu weleh nolak. Rarasaan teh can manjing umur. Kakara beres kuliah. Kahayang teh ke heula, itung-itung nyeunghap, sakola saumur-umur. Kudu gura-giru kawin teh meungpeung abah jagjag keneh, ceuk umi mah. Sabalikna, ceuk abah, meungpeung umi jagjag keneh. Ongkoh pisalakieunana oge apan geus ngadagoan kuring ti keur di SMA keneh.

Rada reuwas basa Mas Edo jeung kolotna datang nanyaan teh. Euweuh iber ti tadina. Ujug-ujug nanyaan weh. Asa teu kungsi silitalek. Enya ari deukeut tea mah jeung Mas Edo teh. Ti keur di SMP keneh malah, sok mindeng ka imah. Deukeut kitu we teu dibarung ku rasa sejen, komo make aya sir mah. Asa ka lanceuk. Atuda babaturan Kang Eri, lanceuk kuring nu panggedena. Harita ge, kuring keur di SMP kelas dua, Kang Eri jeung Kang Edo mah geus karuliah. Boh kulawarga Mas Edo boh kulawarga kuring, sok silianjangan. Komo sanggeus Kang Eri kawin ka barayana Mas Edo mah, asa katalian. Beuki raket we duduluran teh.

Umi mimitina mah. Keur kelas tilu SMA, kawas nu ngocal-ngocal. Pajah teh, umi mah atoh mun Mas Edo jadi minantu. Teu kagok mianak. Kahayang umi teh pada ngaheueuhan, pangpangna mah ku Kang Eri jeung Ceu Emay. Ari sorangan, teu sirikna jejebris. Teu hayang. Teu bogoh saeutik-eutik acan. Piraku kudu kawin ka lalaki nu sasat geus jadi lanceuk pituin. Teu. Teu boga niat kawin tereh-tereh deuih. Piraku ari Kang Eri jeung Ceu Emay tamat kuliahna, ari kuring kudu enggeusan semet SMA. Asana teh, teungteuingeun umi mah. Naha teu dikawinkeun ka Ceu Emay we bareto teh. Babad ari jeung Ceu Emay mah, umurna teu ganjor teuing. Geuning Ceu Emay kalah kawin ka urang Prancis.

Ti harita, ngahaja rada ngajauhan Mas Edo teh. Teu cara sasari, diuk ge sok hayang pagegeye. Lalajo mindeng. Ka mana-mana sok diaanteur. Rarasaan teh da ka lanceuk tea. Teu ragab teu naon. Tapi da Mas Edona ge teu asa-asa. Nyaan miadina teh. Sugan sok beda kituh, pedah deukeut jeung kuring, parawan nu sumedeng beger. Mas Edo mah angger, ngaping ngadidik. Keur SMP remen dianteurkeun ka sakola, dibonceng kana motor. Geus di SMA, malah keur kuliah ge, kitu keneh we. Bedana teh ganti tina motor kana mobil. Ku umi dititah nganteur ka dokter ge, daekeun we. Lain ka kuring wae kituna teh, ka Ceu Emay ge sarua. Memeh boga salaki mah, sagulung sagalang we jeung Mas Edo teh ilaharna adi lanceuk.

Boh Ceu Emay boh kuring, teu boga rasa bogoh teh atuda Mas Edona kawas nu teu beger. Rengkak paripolahna ge siga awewe. Tara kabejakeun sok ngaheureuyan awawa ti keur sakolana oga. Eta pangpangna mah, pangna kuring teu bogoh oge, asa papada awewe. Lain kitu ari lalaki mah. Kuring mah hayang teh ka lalaki nu nyaan lalaki. Lain nu palaya-peleye kawas Arjuna. Hayang ka nu dangah kawas Gatotkaca. Ari Mas Edo, karesepna teh kalah kana masak, nyieun desain baju. Lalaki naon siga kitu.

Henteu wani ari nyebut Mas Edo banci mah. Da ari papakeanana mah angger cara ilaharna lalaki. Tapi ana ditelek-telek, kawas bogoheun ka Kang Eri. Basa Kang Eri kawin ge, Mas Edo mah kalah indit ka Singapur. Pajah teh riset. Ketang, eta mah panyangka kuring we. Teu diobrolkeun ka sasaha ge, bisi suudon.

Mas Edo nu ngalaanan pakean panganten jeung memeres buuk urut disasak oge. Teu sirikna salambar-salambar disisiran make cai. Atuda nu nyieun rarancang pakean panganten oge Mas Edo. Pidua-bulaneun deui ka akad, geus anggeus baju panganten keur kuring teh. Ngahaja rada digedean, saluhureun ukuran awak kuring. Model kiwari mah fenomenal look tina singset kana gobroh, pajahkeun teh. Sabodo teuing. Teu nyaho teusing kana sual mode mah. Kuma ahlina we. Dina emprona mah angger we sabudeur awak diopnesel, da cek kuring, teu saringset asa gabrah-gobroh, siga meunang nginjeum. Apik pisan. Pakean teh diasupkeun kana pop nu teu sirahan tea.

Sibeungeut we, da rariged, beungeut panganten tea, diriasna ge apan sakitu kandelna. Acan mandi mah. Engke we ari lilir, kajeun tengah peuting ge. Teu kuat ku tunduh. Teu sirikna lep-lepan keur solat magrib oge.

Mas Edo mah gancang cucul-cuculna teh da lalaki. Beskapna digantungkeun ngahiji jeung calana sontog nu tungtungna dipasmen. Cenah mah gaya campuran antara modeu Barat jeung Sunda. Teuing, nu karitu mah Mas Edo ahlina. Salin ku piama kekembangan, bungur saulas, karesepna jeung karesep kuring deuih pulas bungur ngora teh. Diuk dina ranjang, gigireun. Sukuna ngarumbay kana karpet kandel nu ngampar sakuliah kamar.

Kadenge sawareh, basa Mas Edo, nyekelan peupeuteuyan. Ramo dirames. Bari nyium tarang, Mas Edo nyarita lalaunan.

"Sing jongjon we kulem. Wengi tadi apan teu kulem," pokna. "Bilih ngaganggu, Edo mah bade beberes di kamar nu itu." Angger, da ti bareto ge sok nikukur Mas Edo mah.

Pakean panganten teh diringkid ka kamar VIP di peuntaseun ngan kahalangan ku gang wungkul. Surtieun pisan salaki teh, peuting eta mah kuring embung kaganggu, hayang sare tibra, itung-itung mayar hutang. Teu sarena ge aya we tilu peuting mah, rek hajat teh. Atoh ditinggalkeun teh. Balik-balikanan aya di kamar. Ragab. Teu bisa disumputkeun, embung! Kacipta mun kudu papanganten jeung Mas Edo. Asa, asa naon kitu? Ah, garila we. Ragab.

Inget ka dinya, pitunduheun teh bet ngurangan. Ras kana nasib. Boga salaki teh bet, beda pisan jeung kahayang. Apan kuring mah resep teh ka tukang maen bal, tentara, pilot, atawa nu sok ngalalana. Ari koceplak teh meunangkeun lalaki miyuni bikang. Breh umi ngalangkang dina ingetan. Nu kitu tea mah umi. Bongan maksa. Rek dibales, sina ibur, kuring teu daek ngalayanan nu jadi salaki. Ti peuting munggaran tepi ka iraha wae oge, moal. Carekna moal teh, moal.

Tapi lila-lila bet jorojoy aya rasa karunya jeung make sieun doraka sagala. Apan Mas Edo teh ayeuna mah geus jadi salaki. Tadi beurang ijab kobul di hareupeun wali jeung panghulu. Pisakumahaeun teuing benduna abah jeung umi mun seg uningaeun kuring teu baleg. Teu daek ngalayanan nu jadi salaki.

Pangna tepi ka dirapalan oge apan kuring geus nyebutkeun daek barang dilamar oge. Enya ari ukur mamanis lambe tea mah. Kapaksa bakat ku hayang mulang tarima ka nu jadi kolot. Umi pangpangna mah apan sakitu tipoporosena hayang minantuan ka Mas Edo teh. Doa mah doa, merul saban waktu. Tatanya ka saban austad. Puasa ge umi mah teu kalis ku nyenen-kemis. Saum Daud ge da can kungsi ompong ari lain aya ondangan ti dulur landes mah. Da enya, cek batur, malah cek umi ge, Mas Edo teh kasep, anak nu jegud, bapana ge apan diplomat senior. Cek batur mah, nu hayang ka Mas Edo teh kuring atawa umi?

Kungsi aya beja pajah Mas Edo rek kawin ka barayana papada ti Jogja. Na da umi nu bayeungyangna mah, meh-meh ngajungkel apan, mun teu pada- ngupahan, pada-ngubaran ku sobat-sobatna mah. Ari kuring mah jongjon we, malah make atoh sagala Mas Edo aya jodo teh. Nyaan, rek ngajak Ceui Emay jeung Kang Eri, nganteur Mas Edo seserahan.

Merenah kitu mun Mas Edo diteungteuinganan ku kuring? Naon dosana? Asa teu kitu teu kieu, der panganten awewe pista. Awewe nanahaon atuh kuring teh? Batur mah dibelaan dudukun apan hayang deet jodo teh. Neangan nu kumaha deui Teu meunang kitu ari jadi jelema. Eta teh sarua jeung mangnyerikeun batur. Ngijing sila bengkok sembah ka nu jadi salaki. Dosa gede! Cek sorangan kitu the. Nyaho, da sok ngaji ti leuleutik oge. Tapi ari embung?

Lalaunan turun tina ranjang. Kakara sidik, kamar teh disaput ku tileu semu bungur, sepre jeung sarung bantal, bungur ngora dipelat kaen bungur kolot. Nu kieu meureun nu disebut romantis teh. Lampu oge lain lampion atawa neon nu ngebrak, ieu mah dicaangan ku lilin, siga damar sewu.Kembang eros beureum dina bokor emas. Hiji dina meja toilet nu hiji deui dina meja leutik sisi ranjang.Eunteung satangtung-satangtung di gigir jeung di tunjangeun. Ngahaja ku desainer hotel, keur nu oleng panganten.

Leumpang ka sisi. Hordeng kandel diserelekkeun. Fitraseu bodas nyacas matak parat titingalan ka luar hotel. Kamar panganten teh ayana di tahap ka dalapan. Di handap, tembong jalan but-bat. Cahaya lampu mobil masih keneh kaciri pasuliwer. Gap kaca tukangeun ftraseu teh dicabak. Sidik kandel. Tapi mun dibanting ku korsi mah, piraku teu rujad. Awak kuring ngalayang, gebut ninggang aspal. Beres weh pasualan teh. Kuring teu tulus papanganten jeun Mas Edo. Pasti karasaeun ku umi, nyerina hate awewe nu kawin ka lalaki nu teu dipikabogoh. Enya sina karasaeun.

Nanaonan, cek hate keneh. Istigfar sababaraha kali. Moal ari tepi ka maehan maneh onaman. Asana bakal sarua nyerina, maehan maneh jeung maksa maneh sing daek ka Mas Edo. Enya, mending keneh milih papanganten jeung Mas Edo nu puguh geus jadi salaki.

Gilig. Rarasaan teh asa ngararemplong teu sumpeg teuing ari geus milih jalan sorangeun mah. Rap didaster ipis, kado ti manajer hotel. Teu diketrok panto kamar Mas Edo teh. Teu dikonci. Bray dibuka. Breh teh, hareupeun kaca satangtung, panganten awewe. Sagala rupana nu tadi beurang dipake ku kuring. Kabaya panjang sutra pulas emas. Tukangna ngagapuy. Teu ngarenjag teu naon kuring asup teh. Barang malik, tembong panganten teh kacida geulisna. Kuring mah teu satungtung curukna. Geulis teh estu kawanti-wanti.

"Kumaha At, sae nya acuk panganten teh?" pokna. " Ti barang ningal Atih rap nganggo acuk di tempat rias tea, tos kumejot, hayang sarap-rapeun nganggo anggoan panganten. Hayang leuwih geulis batan Atih."
Kuring calangap keneh, asa can kumpul pangacian. Manehna geus leumpang, teu beda ti model nu keur leumpang dina cat-walk. Gek diuk dina dipan, andalemi.

"Mas Edo?" pok teh semu ngajerit.

Manehna unggeuk bari imut saulas. Tapi saterusna mah ngahuleng. Aya nu merebey tina biwir panonna nu make bulu panon perak.

"Meh saban wengi Edo sok dangdan, ngelemet ka luar ngahiji jeung nu sanasib, di taman, di kleub, atanapi dugem. Nanging nembe wengi ieu asa kacida bagjana. Kalaksanakeun nganggo raksukan panganten meunang ngararancang sorangan.

Dicutat tina Majalah Mangle


Read More...



SMA Pasundan 1 Bandung Nataharakeun SSN



Nyiar elmu kari prakna. Asal leukeun jeung keyeng, piraku teu hasil pamaksudan. Ngan, tangtu pihak sakola ge ngayakeun rupa-rupa tarekah sangkan barudak nu nyiar elmu di eta sakola boga kamampuhan nu cukup luyu jeung tingkatan sakolna. Ku lantaraan kitu, keur ngarojong ajen atikan SMA Pasundan 1 Bandung keur tatahar sangkan eta sakola kaasup kana Rintisan Sekolah Standar Nasional (RSSN).

Sakola-sakola nu aya dina papayung Paguyuban Pasundan, boga ciri jeung udagan mandiri. Barudak nu nyiar elmu di nya dipiharep pengkuh agamana, luhung elmuna, jeung jembar budayana. Eta ciri umum, magrupa visi katut misi sakola-sakola Pasundan. "Sagala rupi kagiatan sakola neueul kana visi katut misi atikan di Paguyuban Pasundan," ceuk Wawan Hernawan S.Pd., Kepala SMA Pasundan 1 Bandung.

SMA Pasundan 1 nu perenahna di Jalan Balong Gede, dipuseur kota, kiduleun alun-alun Bandung teu weleh boga karep ngaronjatkeun ajen atikan. "Pihak sakola nuju nataharkeun kanggo lebet kana standar nasional," pokna basa ngobrol di kantorna sawatara waktu ka tukang.

SMA Pasundan 1 Bandung, kaasup salah sahiji sakola pinunjul di lingkungan SMA Pasundan. Matak, teu aneh teu sing upama eta sakola teu weleh jadi pamungpungan barudak nu boga karep nyiar elmu di SMA.

Upama loba sakola sawasta nu saateun murid, SMA nu dipingpin ku Wawan Hernawan mah teu kitu. Ti waktu ka waktu muridna terus nambahan. Kiwari SMA Pasundan 1 boga murid leuwih ti sarebu urang, kaasup jumlah murid nu loba keur hiji sakola. Nilik kana jumlah siswa, memang, jadi salah sahiji bukti SMA Pasundan 1 meunang kapercyaan ti masarakat. Nu sarakola ka dinya, lain wungkul urang Bandung, tapi deuih ti daerah-daerah sejen.
Mere Pilihan

Keur nu ngokolakeun SMA Swasta, bisa jadi loba nu hariwang. Malum, panggero sina sarakola teh sina ka SMK. Cenah, satutas di SMK mah bisa asup kana dunya gawe. Malah, kawijakan pamarentah ngahangkeutkeun SMK ge terus ngageder. Rupa-rupa iklan layanan masarakat teu weleh kapireng dina rupa-rupa media masa. Pamarentah ngancokeun babadingan 70 persen SMK, 30 persen SMA. Udangan babandingan jumlah sakola saperti kitu, jadi 'tangtangan' keur pihak pihak nu ngokolakeun SMA swasta.

Kumaha tarekah SMA Pasundan 1 Bandung? Eta sakola teu weleh nataharkeun sagala rupa jurus jeung tarekah. Keur ngaronjatkeun ajen atikan, ceuk Wawan Hernawan, misti nete taraje nincak hambalan. Upama miharep atikan luyu jeung nu dipiharep, saperti nyangking jujuluk standar nasional, hartina kudu ditataharkeun sagala rupana. "Ngawitan nataharkeun guruna," pokna. Lain kakara pok, tapi geus jeung prakna. guru-guru di SMA Pasundan 1 remen miluan palatihan-palatihan nyanghareupan pakalangan anyar, asup kana sakola standar nasional tea.

Satutas nataharkeun guruna, kakara prak dina prosoes KBM-na. "Ngawitan taun ajaran anyar," pokna. Ku lantaran kitu, ceuk kepala sakola, narima murid ge diwatesanan.

Barudak nu sarakola di SMA teu sacara husus sina langsung boga kaparigelan keur nyanghareupan dunya gawe. Tapi, pihak SMA Pasundan ge engeuh, barudak kudu kudu boga karancagean nu guna saupama teu langsung neruskeun kuliah. Ku lantaran kitu, sakola ge nyadiakeun pelajaran husus saperti IT jeung Otomotif. Barudak bisa milih atikan kaparigelan luyu jeung karep msing-masing.

Ti waktu ka waktu, SMA Pasundan 1 terus mekar. Ieu sakola ngahontal 'prestasi' nu pikareueuseun balarea. Ajen sakola kawas kitu, oge ngalantarankeun SMA Pasundan 1 beuki pada mikawanoh. Saterusna, satutas barudak lulus SMP/MTs, loba nu boga karep neruskeun sakola ka SMA Pasundan 1 Bandung.

Read More...



Saturday, January 8, 2011

Kisi-kisi UN 2011



Ujian sekolah harus dilaksanakan sebelum pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Hal ini terkait dengan perubahan mekanisme kelulusan siswa yang menggabungkan nilai UN dengan nilai sekolah.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bandung, Dadang Iradi mengungkapkan, berdasarkan draf petunjuk teknis UN, satu minggu sebelum pelaksanaan UN, nilai dari sekolah harus sudah dikumpulkan ke dinas, untuk diserahkan ke pusat.


Download Kisi-kisi UN 2011

"Jika ujian sekolah dilaksanakan terlebih dahulu, kata Dadang, saat nilai UN keluar, akan langsung dikonversikan sehingga para siswa dan sekolah bisa langsung mengetahui lulus atau tidaknya," kata Dadang yang ditemui di Kantor Disdik Kota Bandung, Jln. Ahmad Yani, Senin (3/1).

Dadang menjelaskan, berdasarkan rapat koordinasi dengan Kementerian Pendidikan Nasional, di Solo, pada 29 sampai 31 Desember lalu, UN tingkat SMA dan SMK akan dilaksanakan pada 18 sampai 21 April mendatang. Sementara itu, UN tingkat SMP 25 sampai 28 April, dan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) akan berlangsung pada 9 sampai 11 Mei.

Menurut Dadang, nilai sekolah yang akan digabungkan dengan nilai UN terdiri dari nilai rapor dan ujian sekolah. Untuk tingkat SMA dan SMK, nilai rapor yang akan dihitung dari semester tiga sampai lima dan tingkat SMP semester satu sampai lima. Bobotnya, kata Dadang, nilai sekolah 40, sedangkan UN 60. Untuk bobot nilai sekolah, ujian sekolah 60, sedangkan rapor 40.

Read More...



Monday, January 25, 2010

West Java Tourism



West Java Province is located at part of western Java Island. The enchanting of Sunda land stretches from Sunda Strait in the west to the borders of Central Java in the east. The locals' people know West Java Province as the Land of Sunda. The region is primarily mountainous, with rich green valleys hugging lofty volcanic peaks, many of which surround the capital of West Java province. The history of West Java is a story of trade, spices, and the rise and fall of powerful kingdoms. In the late 1500's the region was ruled from mighty Cirebon, which still survives as a sultanate today, although a shadow of its former glory. West Java was of the first contact points in Indonesia for Indian traders and their cultural influences, and it was here that the Dutch and British first set foot in the archipelago.


West Java province its self, is formed based on the Constitution number 11/1950 on the establishment of West Java. With the issuance of Constitution number 23/2000 on Banten Province, West Java Governor Assisting Territory I Banten was inaugurated as Banten Province with its territories comprising Serang Regency, Pandeglang Regency, Lebak Regency, Tangerang Regency and Mayoralty, and Cilegon Mayoralty. After the change, at present West Java consists of 18 regencies, nine mayoralties, 584 districts, 5,201 villages and 609 sub districts.
The capital city of West Java province is Bandung city. Bandung is situated 180 km southeast of Jakarta. The city gamed fame in 1955 as the venue for the first Afro-Asian Conference, which brought together the leaders of 29 Asian, and African nations with the aim to promote economic and cultural relations and take a common stand against colonialism.
The road from Jakarta to Bandung passes through a beautiful panorama of mountains, paddy fields and small holiday resorts. An expressway connects the crowded capital city with Bogor and the mountain areas, and onward to Bandung. It has a number of sea resorts on its western and southern coasts, which have modern hotels and are popular during the weekends. The Sundanese people are soft-spoken. The women of the Bandung region are known for their beauty. A lighthearted people who have a love for bright colors, their mournful "kecapi" music is memory of beautiful legends.

Geographically
Geographically, West Java Province is situated between 5 50'-7 50' South parallels and 104 48'-104 48 East meridians.
West Java Province is bordered of:
North side: Java Sea and Jakarta
West side: Banten Province and Hindia Ocean
South side: Hindia Ocean
East side: Central Java Province.
This strategic geographical condition is an advantage for West Java particularly in communication and transportation. Northern region is plain area, while southern part is a hilly area with beaches, and the middle region is mountainous area. But after the establishment of Banten Province, the size of West Java becomes 35,746.26 kilometer square.

Topography
West Java has a characteristic as part of a volcanic belt, which spans from Sumatra Island to the northern part of Sulawesi Island. Its land can be divided into a region with steep mountains with altitude of more than 1,500 meter above the sea level in the South, moderate hill with elevation of 100 to 1,500 meters, and plain region in the north with elevation between 0 and 10 meters and river region.

Climate
West Java has tropical climate with temperature reaching 9 degrees Celsius at the Peak of Mount Pangrango and 34 degrees Celsius in north beach. The average rainfall is at 2,000 millimeters per year, but in the mountainous areas the rainfall could reach 3,000 to 5,000 millimeters per year.

Population
Based on the national census in 1999, West Java population after the separation of Banten stood at 34,555,622 people. In 2000, based on another census, the population grew to 35,500,611 people with population density of 1,022 inhabitants per square kilometer. The population growth between 1990 and 2000 reached 2.17 %. In 2003, the population has increased to 38,059,540 people with population density of 1,064 inhabitants per square kilometer.

Read More...



Loading...

  © Jawa Barat Template Redesign by Online Lesson 2010

Back to TOP