<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912</id><updated>2012-01-31T12:33:46.183-08:00</updated><category term='About West Java'/><category term='Kabupaten Kuningan'/><category term='Kabupaten Garut'/><category term='Kabupaten Cirebon'/><category term='Kabupaten Indramayu'/><category term='Kabupaten Purwakarta'/><category term='Tourism'/><category term='Kabupaten Bandung Barat'/><category term='Kabupaten Subang'/><category term='Kabupaten Sukabumi'/><category term='Pendidikan'/><category term='Kabupaten Karawang'/><category term='Kabupaten Tasikmalaya'/><category term='Kota Bandung'/><category term='Kabupaten Bandung'/><category term='Kabupaten Majalengka'/><category term='Ibukota Jawa Barat'/><category term='Ki Sunda'/><category term='Kabupaten Ciamis'/><category term='Seputar Jabar'/><category term='Kabupaten Bogor'/><category term='Pariwisata'/><category term='Kabupaten Cianjur'/><category term='Kabupaten Sumedang'/><category term='Kabupaten Bekasi'/><title type='text'>Jawa Barat</title><subtitle type='html'>Blognya Komunitas Jawa Barat Indonesia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>27</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-443435883323589278</id><published>2011-10-05T02:00:00.000-07:00</published><updated>2011-10-05T02:04:43.417-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pariwisata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kabupaten Ciamis'/><title type='text'>Potensi Pariwisata Kabupaten Ciamis</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5mIoKfpGI/AAAAAAAAALY/c67aCblwqgk/s1600-h/Lambang_kabupaten_ciamis.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 122px; height: 176px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5mIoKfpGI/AAAAAAAAALY/c67aCblwqgk/s320/Lambang_kabupaten_ciamis.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376847303533372514" border="0"&gt;&lt;/a&gt;Pangandaran adalah Objek wisata di Kabupaten Ciamis yang merupakan primadona pantai di Jawa Barat ini terletak di Desa Pananjung dengan jarak 92 km dari Kota Ciamis ke arah selatan. Dari arah Bandung berjarak sekitar 212 KM dengan melewati jalur Bandung – Ciamis – Banjar dan Pangandaran. Untuk menuju lokasi Pantai Pangandaran tidak lah sulit. Karena jalur jalan yang ada infrastrukturnya sangat memadai. Semua ruas jalan menuju Pantai Pangandaran sudah diaspal hotmix secara baik.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pengunjung yang tidak menggunakan kendaraan pribadi, maka dapat menggunakan jalur angkutan umum. Bila dari Kota Bandung dapat menggunakan Bus atau travel kearah Pangandaran langsung. Atau bila dengan bus bisa singgah dulu di Kab. Ciamis dan kemudian menggunakan bus atau mobil jenis elf menuju Pangandaran. Kandaran tersebut hadir setiap saat hingga pukul 10.00 malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantai Pangadaran memiliki berbagai keistimewaan, yaitu, kita dapat melihat terbit dan terbenamnya matahari dari tempat yang sama. Pantainya landai dengan air yang jernih serta jarak antara pasang dan surut relatif lama sehingga memungkinkan orang untuk berenang dengan aman. Kemudian, terdapat pantai dengan hamparan pasir putih yang luas dimana setiap pengunjung bisa melihat batu karang dan ikan-ikan hias dengan jelas. Pada pesisir pantai pasir putih ini pengunjung bisa melakukan penyelaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keselamatan pengunjung wisata pantai terdapat Tim Penyelamat atau Balawista yang dilengkapi peralatan pengmanan. Mereka setiap saat senantiasa beroperasi di pantai-pantai khususnya pantai Selatan. Berjaga-jaga dari kemungkinan adanya pengunjung yang tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kawasan Pangandaran, tidak saja merupakan kawasan pantai, tapi juga terdapat kawasan cagar alam seluas 530 Hektar yang didalamnya terdapat Goa-Goa Alam yang terbentuk ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Terdapat pula Goa Belanda sebagai tempat persembunyian tatkala mendapat serangan tentara Sekutu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goa Alam yang terbentuk itu didalamnya terdapat bebatuan stalagtit (endapan berbentuk batuan keras) dan batu-batuan granit yang menggantung di langit-langit goa. Bantuan granit itu bila disorot dengan lampu senter, akan mengeluarkan cahaya yang indah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat empat buah goa, yaitu meliputi : Goa Lanang, Goa Rengganis, Goa Sumur Mudal, dan Goa Miring.&lt;br /&gt;Disbut Goa Lanang karena didalamnya terdapat bantuan endapan yang berbentuk seperti kemaluan laki-laki. Disebut goa Rengganis, karena disana terdapat sumber mata air jernih dan tawar yang konon dahulunya menjadi tempat Dewi Rengganis mandi ketika abad kerajaan Sunda yang berpusat di Ciawi Ciamis. Barangsiapa yang mandi atau mengusap muka, konon akan segera mendapatkan jodoh. (ini hanya sekedar dogeng). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebut Goa Miring, karena kalau masuk kedalamnya harus memiringkan badan sejauh 30 meter dan bila tidak, maka tidak akan bisa masuk. Kemudian, disebut Goa Sumur Mudal, karena didalamnya terdapat sumber air yang terus-menerus menetes dan ketika ditampung dengan enber atau tempat lainnya akan “mudal”, airnya tumpah karena penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pantai Pangandaran, setiap pengunjung dapat melakukan  antara lain berenang, berperahu pesiar, memancing, keliling dengan sepeda, para sailing, jetski, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infrastruktur lainnya yang tersedia dan menjadi persyaratan suatu kawasan wisata yaitu, adanya Lapang Parkir yang cukup luas. Hotel, restoran, penginapan, pondok wisata dengan tarif yang bervariasi. Pelayanan pos, telekomunikasi dan money changer. Gedung bioskop, diskotik. Pramuwisata dan Pusat Informasi Pariwisata. Bumi perkemahan. Sepeda dan ban renang sewaan, parasailing, jetski, banana boat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atraksi wisata yang rutin diselenggarakan antara lain: Festival Layang-Layang/Pangandaran Kite Festival, Pemilihan Putra Putri Pariwisata, Hajat Laut, Pangandaran Lautan Scooter, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasilitas yang menjadi hal pokok bagi kawasan pantai, kini sudah lengkap tersedia di Pantai Pangandaran. Kawasan perhotelan dari mulai tingkat melati sampai hotel berbintang. Bungalow dan penginapan untuk keluarga bertebaran di sekitar pantai Pangandaran. Rate harganya cukup kompetitif . Di hari biasa, harganya berkisar Rp 100 ribu-an sampai  Rp 250 ribuan. Di hari week end atau hari libur / hari raya harga bergerak naik dengan pertambahan sekitar 10 % hingga 20 %. Perubahan ini secara rutin dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-443435883323589278?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/443435883323589278/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2011/10/potensi-pariwisata-kabupaten-ciamis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/443435883323589278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/443435883323589278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2011/10/potensi-pariwisata-kabupaten-ciamis.html' title='Potensi Pariwisata Kabupaten Ciamis'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5mIoKfpGI/AAAAAAAAALY/c67aCblwqgk/s72-c/Lambang_kabupaten_ciamis.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-5003483914215671140</id><published>2011-01-30T05:20:00.000-08:00</published><updated>2011-01-30T05:22:23.725-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Biaya Kuliah di Perguruan Tinggi Negeri</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Biaya Kuliah di Perguruan Tinggi Negeri bisa mencapai Rp. 65 juta pertahuan. Jumlah yang dinilai secara sepihak tampak sangat besar. Berdasarkan kesimpulan dari kajian Pemerintah bahwa perguruan tinggi negeri kini harus membayar uang kuliah puluhan juta rupiah per tahun. Berdasarkan kajian pemerintah, biaya setiap mahasiswa di kampus negeri berkisar Rp 10 hingga 62 juta per tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Rektor Bidang Akademik dan Mahasiswa Institut Teknologi Bandung Carmadi Mahbub mengatakan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional telah mengkaji perhitungan rata-rata biaya kuliah mahasiswa di perguruan tinggi negeri di Indonesia sejak tahun lalu. "Tapi sampai saat ini belum ada hasil tertulis, baru lisan," ujarnya seusai sosialisasi penerimaan mahasiswa ITB baru lewat jalur undangan di Aula Timur ITB, Jumat (28/1).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, unit cost tiap program studi berbeda-beda. Tapi ada tiga kategori yang menjadi acuan bagi kampus negeri. Biaya kuliah mahasiswa ilmu sosial, kata dia, sebesar Rp 17 juta per tahun. Sedangkan mahasiswa ilmu teknik Rp 23 juta.&lt;br /&gt;"Mahasiswa kedokteran tiga kali lipat atau Rp 51 juta," ujarnya saat sosialisasi kepada ratusan kepala sekolah tentang penerimaan mahasiswa ITB jalur undangan di Aula Timur ITB, Jumat (28/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihubungi terpisah, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Djoko Santoso mengatakan, kajian biaya kuliah mahasiswa di seluruh kampus negeri berdasarkan wilayah. "Kajian itu untuk menentukan besaran dana bantuan dari pemerintah ke PTN," katanya, Jumat (28/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya kuliah mahasiswa ilmu sosial per tahun berkisar Rp 10-17 juta. Mahasiswa ilmu teknik Rp 14-20 juta. Sedangkan mahasiswa kedokteran Rp 32-62 juta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ragam besaran itu, katanya, tergantung wilayah keberadaan kampus negeri. Untuk di daerah perkotaan dan berada di Pulau Jawa, Bali, serta Papua, biaya kuliahnya tergolong paling tinggi. Adapun biaya kuliah di kawasan Pulau Sumatera tergolong menengah. Sedangkan yang masih cukup murah, berada di Kalimantan dan Sulawesi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Djoko, selama ini tidak ada kampus negeri yang mematok tarif biaya kuliah melewati kisaran maksimal hasil kajian kementerian tersebut. "Tidak ada yang lebih, malah kurang," katanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-5003483914215671140?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/5003483914215671140/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2011/01/biaya-kuliah-di-perguruan-tinggi-negeri.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/5003483914215671140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/5003483914215671140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2011/01/biaya-kuliah-di-perguruan-tinggi-negeri.html' title='Biaya Kuliah di Perguruan Tinggi Negeri'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-7607395398021894048</id><published>2011-01-30T01:10:00.000-08:00</published><updated>2011-01-30T01:11:06.504-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seputar Jabar'/><title type='text'>Arifin Panigoro Akan Sambut Kepindahan Persib</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pengusaha yang juga penggagas kompetisi Liga Primer Indonesia atau LPI, Arifin Panigoro, menyambut baik dan antusias jika Persib Bandung pindah dari Indonesia Super League (ISL) ke LPI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Arifin, jika Persib bergabung dengan LPI akan memberikan warna kompetisi yang saat ini sudah berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus kalau Persib masuk,” ucapnya&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arifin mengaku, hingga saat ini pihaknya belum ada pembicaraan resmi dengan manajemen Persib terkait rencana kepindahan tim "Maung Bandung" ke LPI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita belum mengadakan pembicaraan dengan Persib, sebentar lagi,” ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arifin menyatakan, jika kedepan banyak klub yang bergabung ke LPI kemunginan besar akan dibagi menjadi dua zona wilayah, barat dan timur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-7607395398021894048?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/7607395398021894048/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2011/01/arifin-panigoro-akan-sambut-kepindahan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/7607395398021894048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/7607395398021894048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2011/01/arifin-panigoro-akan-sambut-kepindahan.html' title='Arifin Panigoro Akan Sambut Kepindahan Persib'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-2935250273515531358</id><published>2011-01-30T01:06:00.001-08:00</published><updated>2011-01-30T01:06:48.711-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seputar Jabar'/><title type='text'>Serial Buku SBY belum Dievaluasi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Dinas Pendidikan Jawa Barat (Jabar)  melalui tim kurikulumnya belum melakukan evaluasi terkait dengan buku tentang SBY yang sejak beberapa tahun beredar di sebagian sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dinas Pendidikan Jabar Zarkasih, Minggu (30/1), mengungkapkan pihaknya masih berkosentrasi mengevaluas buku-buku pelajaran di sejumlah sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami belum berencana mengevaluasi buku tentang SBY," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk sementara, ia menambahkan jika memang disdik kota dan kabupetan dI Jabar, termasuk Cirebon, ingin menarik buku tersebut, itu tidak ada masalah karena buku dari dana alokasi khusus (DAK) itu merupakan kewenangan pemerintah kota dan kabupaten setempat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Disdik Jabar tidak akan intervensi terhadap penarikan buku (tentang SBY) tersebut. Itu merupakan kewenangan dan otoritas tim kurikulum kota dan kabupaten," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku yang menjadi prioritas evaluasi kurikulum, yaitu yang dibiayai dana APBD. "(Evaluasi) di luar itu, termasuk buku SBY, belum kami laksanakan." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-2935250273515531358?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/2935250273515531358/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2011/01/serial-buku-sby-belum-dievaluasi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/2935250273515531358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/2935250273515531358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2011/01/serial-buku-sby-belum-dievaluasi.html' title='Serial Buku SBY belum Dievaluasi'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-8090158872807685698</id><published>2011-01-28T08:45:00.000-08:00</published><updated>2011-01-28T08:47:01.116-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ki Sunda'/><title type='text'>Baju Panganten Pulas Emas</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ku Us Tiarsa R.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari embung, rek kumaha deui? Saleuheung teu bogoh wungkul mah, kapaksa-kapaksa oge meureun daek we ngalayanan. Ieu mah keur teu bogoh teh, ah, teu hayang we. Ongkoh awak asa pasiksak tas nangtung meh opat jam. Teu mararatut-mararatut oge diberenyeh-berenyehkeun biwir teh, ambeh katembong rada amis, tamba jamedud teuing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakara bisa cucul-cucul teh ngahaeub ka magrib. Mani asa areungap. Tuur leklok. Leungeun ge karasa cangkeul. Balas sasalaman. Lain hajat leuleutikan. Bapa sasat mupugkeun tali kanjut. Hajat pamungkas. Euweuh deui kawinkeuneun. Ondangan nu datang ge leuwih ari sarebu mah. Kahayang kuring hajat di hotel bintang opat teh. Ambeh ari beres teu kudu gura-giru balik, da disayagikeun kamar dua. Nu hiji mah suit room keur honey moon. Nu hiji deui VIP, bisi aya kulawarga nu rek marengan. Digugu, da nu mayarna, bapana Mas Edo. Dina emprona mah taya saurang-urang acan nu maturan. Salurti kituna mah. Paduduaan we.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaciri kolot teh barungaheun pisan, kuring daek dikawinkeun tereh-tereh teh da tadina mah teu weleh nolak. Rarasaan teh can manjing umur. Kakara beres kuliah. Kahayang teh ke heula, itung-itung nyeunghap, sakola saumur-umur. Kudu gura-giru kawin teh meungpeung abah jagjag keneh, ceuk umi mah.  Sabalikna, ceuk abah, meungpeung umi jagjag keneh. Ongkoh pisalakieunana oge apan geus ngadagoan kuring ti keur di SMA keneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rada reuwas basa Mas Edo jeung kolotna datang nanyaan teh. Euweuh iber ti tadina. Ujug-ujug nanyaan weh. Asa teu kungsi silitalek. Enya ari deukeut tea mah jeung Mas Edo teh. Ti keur di SMP keneh malah, sok mindeng ka imah. Deukeut kitu we teu dibarung ku rasa sejen, komo make aya sir mah. Asa ka lanceuk. Atuda babaturan Kang Eri, lanceuk kuring nu panggedena. Harita ge, kuring keur di SMP kelas dua, Kang Eri jeung Kang Edo mah geus karuliah. Boh kulawarga Mas Edo boh kulawarga kuring, sok silianjangan. Komo sanggeus Kang Eri kawin ka barayana Mas Edo mah, asa katalian. Beuki raket we duduluran teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umi mimitina mah. Keur kelas tilu SMA, kawas nu ngocal-ngocal. Pajah teh, umi mah atoh mun Mas Edo jadi minantu. Teu kagok mianak. Kahayang umi teh pada ngaheueuhan, pangpangna mah ku Kang Eri jeung Ceu Emay. Ari sorangan, teu sirikna jejebris. Teu hayang. Teu bogoh saeutik-eutik acan. Piraku kudu kawin ka lalaki nu sasat geus jadi lanceuk pituin. Teu. Teu boga niat kawin tereh-tereh deuih. Piraku ari Kang Eri jeung Ceu Emay tamat kuliahna, ari kuring kudu enggeusan semet SMA. Asana teh, teungteuingeun umi mah. Naha teu dikawinkeun ka Ceu Emay we bareto teh. Babad ari jeung Ceu Emay mah, umurna teu ganjor teuing. Geuning Ceu Emay kalah kawin ka urang Prancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ti harita, ngahaja rada ngajauhan Mas Edo teh. Teu cara sasari, diuk ge sok hayang pagegeye. Lalajo mindeng. Ka mana-mana sok diaanteur. Rarasaan teh da ka lanceuk tea. Teu ragab teu naon. Tapi da Mas Edona ge teu asa-asa. Nyaan miadina teh. Sugan sok beda kituh, pedah deukeut jeung kuring, parawan nu sumedeng beger. Mas Edo mah angger, ngaping ngadidik. Keur SMP remen dianteurkeun ka sakola, dibonceng kana motor. Geus di SMA, malah keur kuliah ge, kitu keneh we. Bedana teh ganti tina motor kana mobil. Ku umi dititah nganteur ka dokter ge, daekeun we. Lain ka kuring wae kituna teh, ka Ceu Emay ge sarua. Memeh boga salaki mah, sagulung sagalang we jeung Mas Edo teh ilaharna adi lanceuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boh Ceu Emay boh kuring, teu boga rasa bogoh teh atuda Mas Edona kawas nu teu beger. Rengkak paripolahna ge siga awewe. Tara kabejakeun sok ngaheureuyan awawa ti keur sakolana oga. Eta pangpangna mah, pangna kuring teu bogoh oge, asa papada awewe. Lain kitu ari lalaki mah. Kuring mah hayang teh ka lalaki nu nyaan lalaki. Lain nu palaya-peleye kawas Arjuna. Hayang ka nu dangah kawas Gatotkaca. Ari Mas Edo, karesepna teh kalah kana masak, nyieun desain baju. Lalaki naon siga kitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Henteu wani ari nyebut Mas Edo banci mah. Da ari papakeanana mah angger cara ilaharna lalaki. Tapi ana ditelek-telek, kawas  bogoheun ka Kang Eri. Basa Kang Eri kawin ge, Mas Edo mah kalah indit ka Singapur. Pajah teh riset. Ketang, eta mah panyangka kuring we. Teu diobrolkeun ka sasaha ge, bisi suudon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Edo nu ngalaanan pakean panganten jeung memeres buuk urut disasak oge. Teu sirikna salambar-salambar disisiran make cai. Atuda nu nyieun rarancang pakean panganten oge Mas Edo. Pidua-bulaneun deui ka akad, geus anggeus baju panganten keur kuring teh. Ngahaja rada digedean, saluhureun ukuran awak kuring. Model kiwari mah fenomenal look tina singset kana gobroh, pajahkeun teh. Sabodo teuing. Teu nyaho teusing kana sual mode mah. Kuma ahlina we. Dina emprona mah angger we sabudeur awak diopnesel, da cek kuring, teu saringset asa gabrah-gobroh, siga meunang nginjeum. Apik pisan. Pakean teh diasupkeun kana pop nu teu sirahan  tea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sibeungeut we, da rariged, beungeut panganten tea, diriasna ge apan sakitu kandelna. Acan mandi mah. Engke we ari lilir, kajeun tengah peuting ge. Teu kuat ku tunduh. Teu sirikna lep-lepan keur solat magrib oge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Edo mah gancang cucul-cuculna teh da lalaki. Beskapna digantungkeun ngahiji jeung calana sontog nu tungtungna dipasmen. Cenah mah gaya campuran antara modeu Barat jeung Sunda. Teuing, nu karitu mah Mas Edo ahlina. Salin ku piama kekembangan, bungur saulas, karesepna jeung karesep kuring deuih pulas bungur ngora teh. Diuk dina ranjang, gigireun. Sukuna ngarumbay kana karpet kandel nu ngampar sakuliah kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadenge sawareh, basa Mas Edo, nyekelan peupeuteuyan. Ramo dirames. Bari nyium tarang, Mas Edo nyarita lalaunan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sing jongjon we kulem. Wengi tadi apan teu kulem," pokna. "Bilih ngaganggu, Edo mah bade beberes di kamar nu itu." Angger, da ti bareto ge sok nikukur Mas Edo mah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakean panganten teh diringkid ka kamar VIP di peuntaseun ngan kahalangan ku gang wungkul. Surtieun pisan salaki teh, peuting eta mah kuring embung kaganggu, hayang sare tibra, itung-itung mayar hutang. Teu sarena ge aya we tilu peuting mah, rek hajat teh.  Atoh ditinggalkeun teh. Balik-balikanan aya di kamar. Ragab. Teu bisa disumputkeun, embung! Kacipta mun kudu papanganten jeung Mas Edo. Asa, asa naon kitu? Ah, garila we. Ragab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inget ka dinya, pitunduheun teh bet ngurangan. Ras kana nasib. Boga salaki teh bet, beda pisan jeung kahayang. Apan kuring mah resep teh ka tukang maen bal, tentara, pilot, atawa nu sok ngalalana. Ari koceplak teh meunangkeun lalaki miyuni bikang. Breh umi ngalangkang dina ingetan. Nu kitu tea mah umi. Bongan maksa. Rek dibales, sina ibur, kuring teu daek ngalayanan nu jadi salaki. Ti peuting munggaran tepi ka iraha wae oge, moal. Carekna moal teh, moal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lila-lila bet jorojoy aya rasa karunya jeung make sieun doraka sagala. Apan Mas Edo teh ayeuna mah geus jadi salaki. Tadi beurang ijab kobul di hareupeun wali jeung panghulu. Pisakumahaeun teuing benduna abah jeung umi mun seg uningaeun kuring teu baleg. Teu daek ngalayanan nu jadi salaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangna tepi ka dirapalan oge apan kuring geus nyebutkeun daek barang dilamar oge. Enya ari ukur mamanis lambe tea mah. Kapaksa bakat ku hayang mulang tarima ka nu jadi kolot. Umi pangpangna mah apan sakitu tipoporosena hayang minantuan ka Mas Edo teh. Doa mah doa, merul saban waktu. Tatanya ka saban austad. Puasa ge umi mah teu kalis ku nyenen-kemis. Saum Daud ge da can kungsi ompong ari lain aya ondangan ti dulur landes mah. Da enya, cek batur, malah cek umi ge, Mas Edo teh kasep, anak nu jegud, bapana ge apan diplomat senior. Cek batur mah, nu hayang ka Mas Edo teh kuring atawa umi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kungsi aya beja pajah Mas Edo rek kawin ka barayana papada ti Jogja. Na da umi nu bayeungyangna mah, meh-meh ngajungkel apan, mun teu pada- ngupahan, pada-ngubaran ku sobat-sobatna mah. Ari kuring mah jongjon we, malah make atoh sagala Mas Edo aya jodo teh. Nyaan, rek ngajak Ceui Emay jeung Kang Eri, nganteur Mas Edo seserahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merenah kitu mun Mas Edo diteungteuinganan ku kuring? Naon dosana? Asa teu kitu teu kieu, der panganten awewe  pista.  Awewe nanahaon atuh kuring teh? Batur mah dibelaan dudukun apan hayang deet jodo teh. Neangan nu kumaha deui Teu meunang kitu ari jadi jelema. Eta teh sarua jeung mangnyerikeun batur. Ngijing sila bengkok sembah ka nu jadi salaki. Dosa gede! Cek sorangan kitu the. Nyaho, da sok ngaji ti leuleutik oge. Tapi ari embung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalaunan turun tina ranjang. Kakara sidik, kamar teh disaput ku tileu semu bungur, sepre jeung sarung bantal, bungur ngora dipelat kaen bungur kolot. Nu kieu meureun nu disebut romantis teh. Lampu oge lain lampion atawa neon nu ngebrak, ieu mah dicaangan ku lilin, siga damar sewu.Kembang eros beureum dina bokor emas. Hiji dina meja toilet nu hiji deui dina meja leutik sisi ranjang.Eunteung satangtung-satangtung  di gigir jeung di tunjangeun. Ngahaja  ku desainer hotel, keur nu oleng panganten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leumpang ka sisi. Hordeng kandel diserelekkeun. Fitraseu bodas nyacas matak parat titingalan ka luar hotel. Kamar panganten teh ayana di tahap ka dalapan. Di handap, tembong jalan but-bat. Cahaya lampu mobil masih keneh kaciri pasuliwer. Gap kaca tukangeun ftraseu teh dicabak. Sidik kandel. Tapi mun dibanting ku korsi mah, piraku teu rujad. Awak kuring ngalayang, gebut ninggang aspal. Beres weh pasualan teh. Kuring teu tulus  papanganten jeun Mas Edo. Pasti karasaeun  ku umi, nyerina hate awewe nu kawin ka lalaki nu teu dipikabogoh. Enya sina karasaeun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanaonan, cek hate keneh. Istigfar sababaraha kali. Moal ari tepi ka maehan maneh onaman. Asana bakal sarua nyerina, maehan maneh jeung maksa maneh sing daek ka Mas Edo. Enya, mending keneh milih papanganten jeung Mas Edo nu puguh geus jadi salaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gilig. Rarasaan teh asa ngararemplong teu sumpeg teuing ari geus milih jalan sorangeun mah. Rap didaster ipis, kado ti manajer hotel. Teu diketrok panto kamar Mas Edo teh. Teu dikonci. Bray dibuka. Breh teh, hareupeun kaca satangtung, panganten awewe. Sagala rupana nu tadi beurang dipake ku kuring.  Kabaya panjang sutra pulas emas. Tukangna ngagapuy. Teu ngarenjag teu naon kuring asup teh. Barang malik, tembong panganten teh kacida geulisna. Kuring mah teu satungtung curukna. Geulis teh estu kawanti-wanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kumaha At, sae nya acuk panganten teh?" pokna. " Ti barang ningal Atih rap nganggo acuk di tempat rias tea, tos kumejot, hayang sarap-rapeun nganggo anggoan panganten. Hayang leuwih geulis batan Atih."&lt;br /&gt;Kuring calangap keneh, asa can kumpul pangacian. Manehna geus leumpang, teu beda ti model nu keur leumpang dina cat-walk. Gek diuk dina dipan, andalemi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Edo?" pok teh semu ngajerit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manehna unggeuk bari imut saulas. Tapi saterusna mah ngahuleng. Aya nu merebey tina biwir panonna nu make bulu panon perak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meh saban wengi Edo sok dangdan, ngelemet ka luar ngahiji jeung nu sanasib, di taman, di kleub, atanapi dugem. Nanging nembe wengi ieu  asa kacida bagjana. Kalaksanakeun nganggo raksukan panganten meunang ngararancang sorangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicutat tina Majalah Mangle&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-8090158872807685698?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/8090158872807685698/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2011/01/baju-panganten-pulas-emas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/8090158872807685698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/8090158872807685698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2011/01/baju-panganten-pulas-emas.html' title='Baju Panganten Pulas Emas'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-2397285550400809037</id><published>2011-01-28T08:38:00.000-08:00</published><updated>2011-01-28T08:43:34.051-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ki Sunda'/><title type='text'>SMA Pasundan 1 Bandung Nataharakeun SSN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/TULyJkkXXkI/AAAAAAAAAgI/SRD1Me6rvGI/s1600/logo-sakola-pasundan.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 288px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/TULyJkkXXkI/AAAAAAAAAgI/SRD1Me6rvGI/s320/logo-sakola-pasundan.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567278335632301634" /&gt;&lt;/a&gt;Nyiar elmu  kari prakna. Asal leukeun jeung keyeng, piraku teu hasil pamaksudan. Ngan, tangtu pihak sakola ge ngayakeun rupa-rupa tarekah sangkan barudak nu nyiar elmu di eta sakola boga kamampuhan nu cukup luyu jeung tingkatan sakolna. Ku lantaraan kitu,  keur ngarojong ajen atikan SMA Pasundan 1 Bandung keur tatahar sangkan eta sakola kaasup kana Rintisan Sekolah Standar Nasional (RSSN). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakola-sakola nu aya dina papayung Paguyuban Pasundan,  boga ciri jeung udagan mandiri. Barudak nu nyiar elmu di nya dipiharep pengkuh agamana, luhung elmuna, jeung jembar budayana. Eta ciri umum,  magrupa visi katut misi sakola-sakola Pasundan. "Sagala rupi kagiatan sakola neueul kana visi katut misi atikan di Paguyuban Pasundan," ceuk  Wawan Hernawan S.Pd., Kepala SMA Pasundan 1 Bandung.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMA Pasundan 1 nu perenahna di Jalan Balong Gede, dipuseur kota, kiduleun alun-alun Bandung  teu weleh boga karep  ngaronjatkeun ajen atikan. "Pihak sakola nuju nataharkeun kanggo lebet kana standar nasional," pokna  basa ngobrol di kantorna sawatara waktu ka tukang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMA Pasundan 1  Bandung, kaasup salah sahiji sakola pinunjul di lingkungan SMA Pasundan. Matak, teu aneh teu sing upama eta sakola teu weleh jadi pamungpungan barudak nu boga karep nyiar elmu  di SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upama loba sakola sawasta nu saateun murid, SMA nu dipingpin ku Wawan Hernawan  mah teu kitu. Ti waktu ka waktu muridna terus nambahan. Kiwari SMA Pasundan 1 boga murid leuwih ti sarebu urang, kaasup jumlah murid nu loba keur hiji sakola. Nilik kana jumlah siswa, memang, jadi salah sahiji bukti SMA Pasundan 1 meunang kapercyaan ti masarakat. Nu sarakola ka dinya, lain wungkul urang Bandung, tapi deuih ti daerah-daerah sejen.&lt;br /&gt;Mere Pilihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keur nu ngokolakeun SMA Swasta, bisa jadi loba nu hariwang. Malum, panggero sina sarakola teh  sina  ka SMK. Cenah, satutas  di SMK mah bisa asup kana dunya gawe. Malah, kawijakan pamarentah ngahangkeutkeun SMK ge terus ngageder.  Rupa-rupa iklan layanan masarakat teu weleh kapireng dina rupa-rupa media masa. Pamarentah ngancokeun babadingan 70 persen SMK, 30 persen SMA. Udangan babandingan jumlah sakola saperti kitu,  jadi 'tangtangan' keur pihak pihak nu ngokolakeun SMA swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumaha tarekah SMA Pasundan 1 Bandung? Eta sakola teu weleh nataharkeun sagala rupa jurus jeung tarekah. Keur ngaronjatkeun ajen atikan, ceuk Wawan Hernawan, misti nete taraje nincak hambalan. Upama miharep atikan luyu jeung nu dipiharep, saperti nyangking jujuluk standar nasional, hartina kudu ditataharkeun sagala rupana. "Ngawitan nataharkeun guruna," pokna. Lain kakara pok, tapi geus jeung prakna. guru-guru di SMA Pasundan 1  remen miluan palatihan-palatihan nyanghareupan pakalangan anyar, asup kana sakola standar nasional tea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satutas nataharkeun guruna, kakara prak dina prosoes KBM-na. "Ngawitan taun ajaran anyar," pokna. Ku lantaran kitu, ceuk kepala sakola, narima murid ge diwatesanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barudak nu sarakola di SMA teu sacara husus sina langsung boga kaparigelan keur nyanghareupan dunya gawe. Tapi, pihak  SMA Pasundan ge engeuh, barudak kudu  kudu boga karancagean nu guna saupama teu langsung neruskeun kuliah. Ku lantaran kitu, sakola ge nyadiakeun pelajaran husus saperti IT jeung Otomotif. Barudak bisa milih atikan kaparigelan luyu jeung karep msing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ti waktu ka waktu, SMA Pasundan 1   terus mekar. Ieu  sakola ngahontal 'prestasi' nu pikareueuseun balarea. Ajen sakola kawas kitu, oge ngalantarankeun SMA Pasundan 1 beuki pada mikawanoh. Saterusna, satutas barudak lulus SMP/MTs, loba nu boga karep neruskeun sakola ka SMA Pasundan 1 Bandung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-2397285550400809037?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/2397285550400809037/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2011/01/sma-pasundan-1-bandung-nataharakeun-ssn.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/2397285550400809037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/2397285550400809037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2011/01/sma-pasundan-1-bandung-nataharakeun-ssn.html' title='SMA Pasundan 1 Bandung Nataharakeun SSN'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/TULyJkkXXkI/AAAAAAAAAgI/SRD1Me6rvGI/s72-c/logo-sakola-pasundan.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-8779115957766007314</id><published>2011-01-08T10:28:00.000-08:00</published><updated>2011-01-08T10:32:45.876-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Kisi-kisi UN 2011</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/TSitjuTjE0I/AAAAAAAAAYo/gXF3yZYPmi8/s1600/sekolah-tasikmalaya.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/TSitjuTjE0I/AAAAAAAAAYo/gXF3yZYPmi8/s320/sekolah-tasikmalaya.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5559884569225925442" /&gt;&lt;/a&gt;Ujian sekolah harus dilaksanakan sebelum pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Hal ini terkait dengan perubahan mekanisme kelulusan siswa yang menggabungkan nilai UN dengan nilai sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bandung, Dadang Iradi mengungkapkan, berdasarkan draf petunjuk teknis UN, satu minggu sebelum pelaksanaan UN, nilai dari sekolah harus sudah dikumpulkan ke dinas, untuk diserahkan ke pusat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ivaadvice.blogspot.com/2011/01/get-finance-for-education.html" target="_blank"&gt;Download Kisi-kisi UN 2011&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika ujian sekolah dilaksanakan terlebih dahulu, kata Dadang, saat nilai UN keluar, akan langsung dikonversikan sehingga para siswa dan sekolah bisa langsung mengetahui lulus atau tidaknya," kata Dadang yang ditemui di Kantor Disdik Kota Bandung, Jln. Ahmad Yani, Senin (3/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dadang menjelaskan, berdasarkan rapat koordinasi dengan Kementerian Pendidikan Nasional, di Solo, pada 29 sampai 31 Desember lalu, UN tingkat SMA dan SMK akan dilaksanakan pada 18 sampai 21 April mendatang. Sementara itu, UN tingkat SMP 25 sampai 28 April, dan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) akan berlangsung pada 9 sampai 11 Mei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dadang, nilai sekolah yang akan digabungkan dengan nilai UN terdiri dari nilai rapor dan ujian sekolah. Untuk tingkat SMA dan SMK, nilai rapor yang akan dihitung dari semester tiga sampai lima dan tingkat SMP semester satu sampai lima. Bobotnya, kata Dadang, nilai sekolah 40, sedangkan UN 60. Untuk bobot nilai sekolah, ujian sekolah 60, sedangkan rapor 40. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-8779115957766007314?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/8779115957766007314/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2011/01/kisi-kisi-un-2011.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/8779115957766007314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/8779115957766007314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2011/01/kisi-kisi-un-2011.html' title='Kisi-kisi UN 2011'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/TSitjuTjE0I/AAAAAAAAAYo/gXF3yZYPmi8/s72-c/sekolah-tasikmalaya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-8377422858879460480</id><published>2010-01-25T23:20:00.000-08:00</published><updated>2010-04-08T12:07:21.745-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tourism'/><title type='text'>West Java Tourism</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;West Jav&lt;/span&gt;a Province is located at part of western Java Island. The enchanting of Sunda land stretches from Sunda Strait in the west to the borders of Central Java in the east. The locals' people know West Java Province as the Land of Sunda. The region is primarily mountainous, with rich green valleys hugging lofty volcanic peaks, many of which surround the capital of West Java province. The history of West Java is a story of trade, spices, and the rise and fall of powerful kingdoms. In the late 1500's the region was ruled from mighty Cirebon, which still survives as a sultanate today, although a shadow of its former glory. West Java was of the first contact points in Indonesia for Indian traders and their cultural influences, and it was here that the Dutch and British first set foot in the archipelago.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;West Java province its self, is formed based on the Constitution number 11/1950 on the establishment of West Java. With the issuance of Constitution number 23/2000 on Banten Province, West Java Governor Assisting Territory I Banten was inaugurated as Banten Province with its territories comprising Serang Regency, Pandeglang Regency, Lebak Regency, Tangerang Regency and Mayoralty, and Cilegon Mayoralty. After the change, at present West Java consists of 18 regencies, nine mayoralties, 584 districts, 5,201 villages and 609 sub districts.&lt;br /&gt;The capital city of West Java province is Bandung city. Bandung is situated 180 km southeast of Jakarta. The city gamed fame in 1955 as the venue for the first Afro-Asian Conference, which brought together the leaders of 29 Asian, and African nations with the aim to promote economic and cultural relations and take a common stand against colonialism.&lt;br /&gt;The road from Jakarta to Bandung passes through a beautiful panorama of mountains, paddy fields and small holiday resorts. An expressway connects the crowded capital city with Bogor and the mountain areas, and onward to Bandung. It has a number of sea resorts on its western and southern coasts, which have modern hotels and are popular during the weekends. The Sundanese people are soft-spoken. The women of the Bandung region are known for their beauty. A lighthearted people who have a love for bright colors, their mournful "kecapi" music is memory of beautiful legends.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Geographically&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Geographically, West Java Province is situated between 5 50'-7 50' South parallels and 104 48'-104 48 East meridians.&lt;br /&gt;West Java Province is bordered of:&lt;br /&gt;North side: Java Sea and Jakarta&lt;br /&gt;West side: Banten Province and Hindia Ocean&lt;br /&gt;South side: Hindia Ocean&lt;br /&gt;East side: Central Java Province.&lt;br /&gt;This strategic geographical condition is an advantage for West Java particularly in communication and transportation. Northern region is plain area, while southern part is a hilly area with beaches, and the middle region is mountainous area. But after the establishment of Banten Province, the size of West Java becomes 35,746.26 kilometer square.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Topography&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;West Java has a characteristic as part of a volcanic belt, which spans from Sumatra Island to the northern part of Sulawesi Island. Its land can be divided into a region with steep mountains with altitude of more than 1,500 meter above the sea level in the South, moderate hill with elevation of 100 to 1,500 meters, and plain region in the north with elevation between 0 and 10 meters and river region.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Climate&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;West Java has tropical climate with temperature reaching 9 degrees Celsius at the Peak of Mount Pangrango and 34 degrees Celsius in north beach. The average rainfall is at 2,000 millimeters per year, but in the mountainous areas the rainfall could reach 3,000 to 5,000 millimeters per year.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Population&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Based on the national census in 1999, West Java population after the separation of Banten stood at 34,555,622 people. In 2000, based on another census, the population grew to 35,500,611 people with population density of 1,022 inhabitants per square kilometer. The population growth between 1990 and 2000 reached 2.17 %. In 2003, the population has increased to 38,059,540 people with population density of 1,064 inhabitants per square kilometer.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-8377422858879460480?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/8377422858879460480/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2010/01/west-java-tourism.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/8377422858879460480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/8377422858879460480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2010/01/west-java-tourism.html' title='West Java Tourism'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-8496550765734486090</id><published>2009-09-02T06:41:00.000-07:00</published><updated>2010-09-19T13:19:28.803-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ibukota Jawa Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kota Bandung'/><title type='text'>Kota Bandung</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp53awVr84I/AAAAAAAAANo/EoVXUMYtrIA/s1600-h/Bandung_coa.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 288px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp53awVr84I/AAAAAAAAANo/EoVXUMYtrIA/s320/Bandung_coa.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376866306663117698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bandung is the capital of West Java province. The city was anciently known as Parijs van Java (Dutch), or "Paris of Java". Because it is located in the highlands, Bandung was known as the place where the cool air. This is becoming one of the city of Bandung as a tourist destination. While the existence of public universities and many private universities in Bandung make this city known as one student city in Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Flag&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The flag used by the city of Bandung is based on the Decree While the Regional Representatives Council Big City Bandung on June 8, 1953, No. 9938/53. &lt;span Class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Form of the flag is as stated in the dictum of the above decision as follows:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. The flag used by the Big City Bandung are three areas of horizontal lines, each row from top to bottom in green, yellow, and blue.&lt;br /&gt;  2. Comparisons between the width and the lines under the letter 'a' sequence from top to bottom is 2:1:1.&lt;br /&gt;  3. Comparisons between different length and width 7:5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;History&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * 1488 - Bandung was founded as part of the Kingdom of Pajajaran.&lt;br /&gt;   * 1799 - VOC into bankruptcy so that the territory in the archipelago was taken over by the Dutch government. At that time led by the Regent of Bandung R.A. Wiranatakusumah II.&lt;br /&gt;   * 1808 - Herman Willem Dutch raised Daendels as Governor-General in the archipelago after the departure of the VOC.&lt;br /&gt;   * 1809 - Regent ordered the removal of the capital city to the suburbs Karapyak Cikapundung River (the square now) who was still forest but existing settlements in the north.&lt;br /&gt;   1810 * - Daendels stick the stick at the edge of the opposite Cikapundung the plaza now. "Zorg, dat als ik terug een hier im STAD is gebouwd!" (Try, if I come back here, a city has been built! "). Now the place was a focal point or KM 0 city of Bandung.&lt;br /&gt;   * May 25, 1810 - Daendels request Parakanmuncang regent of Bandung and moved the capital to the region.&lt;br /&gt;   * 25 September 1810 - Daendels migration decree issued capital of Bandung and Syria as well as the appointment of Raden Patih Parakanmuncang. Since the 25 September events were used as the anniversary of Bandung and RA Wiranatakusumah as the founding father. Now replace the name immortalized Cipaganti street, where residential areas became regent when the capital moved to the plaza now.&lt;br /&gt;   * March 24, 1946 - burning of Bandung by the freedom fighters known as the 'Bandung Sea of Fire' and immortalized in the song "Halo-Halo Bandung".&lt;br /&gt;   * 1955 - Asian-African Conference was held on April 18, 1955 in Gedung Merdeka formerly named "Concordia" which is located on Jl. Asia and Africa, across from the Savoy Homann hotel.&lt;br /&gt;   * 2005 - Asian-African Summit 2005&lt;br /&gt;   * In the year 2006 awarded the city of Bandung, the dirtiest of the government, this is closely related to the emergency status of garbage dumps in Bandung during the year.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geography&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung is located at coordinates 107 ° E and 6 ° 55 'latitude. Bandung Area is 16 767 hectares. The city is geographically located in the middle of West Java province. Thus, Bandung has a strategic value to the surrounding areas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung city is situated at an altitude of ± 768 m above sea level on average (mean sea level). Areas north of the city of Bandung in general higher than the southern regions. Average altitude in the north is ± 1050 asl, while in the southern part is ± 675 asl. Bandung is surrounded by mountains that create a kind of basin Bandung (Bandung Basin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung city two main rivers flowing through, namely Citarum River Cikapundung River and its tributaries children who generally flows to the south and meet in the Citarum River. With such conditions, south of Bandung is very susceptible to flooding problems.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Places frequented&lt;br /&gt;Jalan Asia-Africa. On this road there is the building housing the Asian-African Conference 1955&lt;br /&gt;Jalan Asia-Africa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung is known by a large number of old buildings berasitektur Netherlands, among others:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Gedung Sate, now serves as the office of West Java Provincial Government;&lt;br /&gt;   * Hotel Savoy Homann;&lt;br /&gt;   * Building Dwi Color;&lt;br /&gt;   * House SMA Negeri 2 Bandung;&lt;br /&gt;   * Building 5 and SMA SMA 3 Bandung;&lt;br /&gt;   * House SMP Negeri 5 Bandung;&lt;br /&gt;   * House SMA Negeri 8 Bandung;&lt;br /&gt;   * Salvation Army building;&lt;br /&gt;   * House SMP Negeri 2 Bandung;&lt;br /&gt;   * Post Office Building in Bandung;&lt;br /&gt;   * Gedung Merdeka and the Asian-African Museum, the venue for the Asian-African Conference in 1955;&lt;br /&gt;   * Pakuan Building, now the official residence of Governor of West Java;&lt;br /&gt;   * Monuments Bandung Sea of Fire, where the memorial Bandung Sea of Fire;&lt;br /&gt;   * Building Indonesia sued, where Ir. Pledoinya deliver phenomenal Sukarno (Indonesia Sue) in the Dutch colonial period;&lt;br /&gt;   * Building the Cultural Center Foundation;&lt;br /&gt;   * Museum of Geology of Bandung;&lt;br /&gt;   * Museum wangsit Siliwangi Mandala;&lt;br /&gt;   * Institute of Technology;&lt;br /&gt;   * Villa Isola, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI);&lt;br /&gt;   * Hall Station, train station;&lt;br /&gt;   * Several old buildings on the street Braga;&lt;br /&gt;   * Bandung Zoo;&lt;br /&gt;   * Bosscha Observatory in Lembang;&lt;br /&gt;   * Cihampelas shopping centers and Cibaduyut;&lt;br /&gt;   * Lembang, cool area in North Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besides visiting historical buildings such, many interesting activities that can be done in Bandung, such as&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Culinary tours in North Bandung and Lembang area;&lt;br /&gt;   * Natural attractions in the area south of Bandung, North Bandung and Lembang;&lt;br /&gt;   * Hot water washing of natural attractions in Maribaya;&lt;br /&gt;   * Cultural tourism Udjo Saung Angklung Saung Angklung Udjo Padasuka 118;&lt;br /&gt;   * Nature tourism in thermodynamics Perahu crater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another interesting activity that is currently the latest style of its own in the community is to visit the center of used goods in Pasar Gede Bage, Dalem Kaum area, and several shops that specifically provides second-hand goods at cheap prices, such as: Babe, Rasek, etc. . And there are also places that provide goods at a price that is cheaper and usually the goods can be purchased in bulk, such as: New Market (around the Square of Bandung), Andir Market, Etc. It also can visit the shops shoes and bags in Bandung, such as Elizabeth, Edward Forrer, Regions Cibaduyut, etc..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The famous five-star hotel in Bandung is the Hotel Papandayan (****), Preanger (*****), Panghegar (****), Sheraton (*****), (****), Horizon Aston (****), (****), Novotel Bandung Hyatt Regency Bandung Jayakarta Hotel (****), (*****), (****), Hotel Savoy Homann Kedaton (* **), Vue Palace Arion Swiss Belhotel (***), (***), (****), Holiday Inn Universal Hotel Santika (****), (*****), Malya GH Aston Bandung (*****), Cihampelas (***), Grand Pasundan (****), The Luxton (****), (*****), Grand Aquila Hotel Sukajadi (** *), Hilton Hotel Bandung (*****), Banana-Inn Hotel The Palais Dago (****), (***), etc. Coming soon: Aston Pasteur, Grand Royal Panghegar (*****), Marbella Dago Pakar, Hotel Padjajaran (***), etc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shopping malls in Bandung:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Mall: Bandung Supermall (BSM), the Palace Plaza (IP), Bandung Indah Plaza (BIP), Cihampelas Walk (Ciwalk), Paris Van Java (PVJ), King Shopping Center, ITC Kebon Kalapa, Lucky Square, Metro Indah Mall, Bandung Trade Center (BTC), Bandung Trade Mall (BTM). The Plaza IBCC, Pasar Baru Trade Center, Paskal Hypersquare, Setrasari Mall &amp; Plaza. Coming Soon: CX (CiWalk Xtension)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transportation&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung residents typically use the public transportation or public transportation is more familiarly referred to as a transport rather than taxis in the city. In addition, city bus transportation is also a citizen, especially in major streets and for long routes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung also has an international airport, the Airport Bandung Husein Sastranegara connecting with other cities in Indonesia and other overseas routes route in Kuala Lumpur in Malaysia, and Singapore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung also has the two largest railway stations, namely&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Bandung Station every day serving the route Bandung-Jakarta, Surabaya, Yogyakarta and Semarang for Business Class and Executive and&lt;br /&gt;   * Station Kiaracondong for Economy Class.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apart from two stations fruit earlier, there are five other railway stations in Bandung, namely Cimindi, Andir, Ciroyom, Cikudapateuh, and Gedebage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Road infrastructure in the city of Bandung, among others, Pasupati Bridge that connects the north and east of the city of Bandung. The bridge across the valley Cikapundung. Length of 2.8 km and width 30-60 m. On June 25, 2005 the bridge was officially opened. This bridge is intended to become a land mark the new city of Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung can also be reach via the highway that connects all Padaleunyi Padalarang, Cimahi, Bandung, south, and Cileunyi. Furthermore, the highway that connects Padalarang and Purwakarta (Cipularang: Cikampek-Purwakarta-Padalarang) were constructed. Cipularang highways combined with all Padaleunyi and named Purbaleunyi (Purwakarta-Bandung-Cileunyi). Shorten the road traveling between Jakarta and Bandung. Given this point, the travel time from Jakarta to Bandung is only 1.5 hours up to 2 hours. The toll road that connects Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) and Pasir Koja-Soreang also being considered for development.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If the bus lane was built in Jakarta Way, the route will be built TMB Bandung (Bandung Metro Trans). Special bus lines will serve a special bus with a majors-Cibeureum Cibiru. TMB will be cross-Hatta Soekarna road from the east end (Cibiru) to the west end (Cibeureum) Bandung.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-8496550765734486090?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/8496550765734486090/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kota-bandung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/8496550765734486090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/8496550765734486090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kota-bandung.html' title='Kota Bandung'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp53awVr84I/AAAAAAAAANo/EoVXUMYtrIA/s72-c/Bandung_coa.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-5780756491511185477</id><published>2009-09-02T06:37:00.000-07:00</published><updated>2010-04-08T12:10:08.515-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kabupaten Sumedang'/><title type='text'>Kabupaten Sumedang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp51hd-4x5I/AAAAAAAAANg/h185ay6X25M/s1600-h/Lambang_Kabupaten_Sumedang.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 287px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp51hd-4x5I/AAAAAAAAANg/h185ay6X25M/s320/Lambang_Kabupaten_Sumedang.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376864222971479954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kabupaten Sumedang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Sumedang, sekitar 45 km Timur Laut Kota Bandung. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Indramayu di Utara, Kabupaten Majalengka di Timur, Kabupaten Garut di Selatan, Kabupaten Bandung di Barat Daya, serta Kabupaten Subang di Barat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Sumedang terdiri atas 26 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Sumedang, ibukota kabupaten ini, terletak sekitar 45 km dari Kota Bandung. Kota ini meliputi kecamatan Sumedang Utara dan Sumedang Selatan. Sumedang dilintasi jalur utama Bandung-Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bagian Barat Daya wilayah Kabupaten Sumedang merupakan kawasan perkembangan Kota Bandung. IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri), sebelumnya bernama STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri), serta Universitas Padjadjaran berlokasi di Kecamatan Jatinangor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya Kabupaten Sumedang adalah sebuah kerajaan di bawah kekuasaan Raja Galuh. Didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pakuan Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur) dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke-12. Kemudian pada masa zaman Prabu Tajimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam, dan kemudian diganti lagi menjadi Sumedang Larang (Sumedang berasal dari Insun Medal/Insun Medangan yang berarti aku dilahirkan, dan larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumedang Larang mengalami masa kejayaan pada waktu dipimpin oleh Pangeran Angka Wijaya dan Prabu Geusan Ulun sekitar tahun 1578, dan dikenal luas hingga ke pelosok Jawa Barat dengan daerah kekuasaan meliputi wilayah Selatan sampai dengan Samudera Hindia, wilayah Utara sampai Laut Jawa, wilayah Barat sampai dengan Cisadane, dan wilayah Timur sampai dengan Kali Pamali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumedang mempunyai ciri khas sebagai kota kuno khas di Pulau Jawa, yaitu terdapat Alun-alun sebagai pusat yang dikelilingi Mesjid Agung, rumah penjara, dan kantor pemerintahan. Di tengah alun-alun terdapat bangunan yang bernama Lingga, tugu peringatan yang dibangun pada tahun 1922. Dibuat oleh Pangeran Siching dari Negeri Belanda dan dipersembahkan untuk Pangeran Aria Suriaatmadja atas jasa-jasanya dalam mengembangkan Kabupaten Sumedang. Lingga diresmikan pada tanggal 22 Juli 1922 oleh Gubernur Jenderal Mr. D. Folk Sampai saat ini Lingga dijadikan lambang daerah Kabupaten Sumedang dan tanggal 22 April diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Sumedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar wilayah Sumedang adalah pegunungan, kecuali di sebagian kecil wilayah Utara berupa dataran rendah. Gunung Tampomas (1.684 m), berada di Utara Sumedang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-5780756491511185477?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/5780756491511185477/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-sumedang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/5780756491511185477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/5780756491511185477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-sumedang.html' title='Kabupaten Sumedang'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp51hd-4x5I/AAAAAAAAANg/h185ay6X25M/s72-c/Lambang_Kabupaten_Sumedang.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-1229572296313654687</id><published>2009-09-02T06:34:00.000-07:00</published><updated>2010-04-08T12:11:40.297-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kabupaten Sukabumi'/><title type='text'>Kabupaten Sukabumi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp505JBHMTI/AAAAAAAAANY/VrcjgvU-TE8/s1600-h/Lambang_Kabupaten_Sukabumi.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 152px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp505JBHMTI/AAAAAAAAANY/VrcjgvU-TE8/s200/Lambang_Kabupaten_Sukabumi.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376863530148901170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kabupaten Sukabumi, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Palabuhanratu. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bogor di utara, Kabupaten Cianjur di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Lebak di barat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Sukabumi terdiri atas 47 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Palabuhanratu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Topografi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar wilayah kabupaten ini adalah pegunungan, kecuali di sebagian pantai selatan berupa dataran rendah. Beberapa puncak gunung terdapat di bagian utara, diantaranya: Gunung Halimun (1.929 m), Gunung Salak (2.211 m), dan yang tertinggi adalah Gunung Gede (2.958). Di antara sungai yang mengalir adalah Sungai Cimandiri dan Sungai Cikaso, yang bermuara di Samudra Hindia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pariwisata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Pantai Palabuhanratu&lt;br /&gt;   * Air Panas Cisolok, terletak 17 km barat daya Palabuhanratu. Tempat ini terdapat sungai dengan mata air panas dengan letupan vulkanis. Di dekatnya terdapat air terjun dan perkebunan karet.&lt;br /&gt;   * Pantai Karang Hawu, terletak 20 km dari Palabuhanratu. Pantai ini terdapat karang dengan beberapa lubang pada seperti tungku, yang disebut hawu oleh orang setempat. Di pantai ini dapat dilakukan olahraga selancar air.&lt;br /&gt;   * Gua Lalay, terletak 3 km dari Palabuhanratu. Gua ini merupakan rumah dari ribuan kelelawar.&lt;br /&gt;   * Wisata Alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Untuk mereka yang menyukai petualangan alam, mendaki Gunung Gede atau Gunung Pangrango di Taman Nasional Gede-Pangrango di utara Kota Sukabumi merupakan suata pengalaman menarik. Di sini dapat ditemui berbagai jenis ragam tumbuhan serta Bunga Edelweis yang abadi di puncak Petualangan menantang lainnya adalah arung jeram di Sungai Cicatih atau di Sungai Citarik, yang berada 30 km sebelah selatan Kota Sukabumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat Perbelanjaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Pasar Cibadak&lt;br /&gt;   * Pasar Cisaat&lt;br /&gt;   * Pasar Cicurug&lt;br /&gt;   * Pasar ikan Palabuhanratu&lt;br /&gt;   * Pasar Ikan Cibaraja&lt;br /&gt;   * Labora Indah Cibadak&lt;br /&gt;   * Dan Kota Kecamatan Lainnya di Sukabumi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-1229572296313654687?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/1229572296313654687/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-sukabumi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/1229572296313654687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/1229572296313654687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-sukabumi.html' title='Kabupaten Sukabumi'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp505JBHMTI/AAAAAAAAANY/VrcjgvU-TE8/s72-c/Lambang_Kabupaten_Sukabumi.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-1734865863626400030</id><published>2009-09-02T06:31:00.000-07:00</published><updated>2010-04-08T12:12:17.579-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kabupaten Subang'/><title type='text'>Kabupaten Subang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp50SXxnbXI/AAAAAAAAANQ/7QRfQv1rW8U/s1600-h/Lambang_Kabupaten_Subang.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 166px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp50SXxnbXI/AAAAAAAAANQ/7QRfQv1rW8U/s200/Lambang_Kabupaten_Subang.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376862864095538546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kabupaten Subang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Subang. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Indramayu di timur, Kabupaten Sumedang di tenggara, Kabupaten Bandung di selatan, serta Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Karawang di barat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Subang Nomor 3 Tahun 2007, Wilayah ]Kabupaten Subang terbagi menjadi 30 kecamatan, yang dibagi lagi menjadi 245 desa dan 8 kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Subang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten ini dilintasi jalur pantura, namun ibukota Kabupaten Subang tidak terletak di jalur ini. Jalur pantura di Kabupaten Subang merupakan salah satu yang paling sibuk di Pulau Jawa. Kota kecamatan yang berada di jalur ini diantaranya Ciasem dan Pamanukan. Selain dilintasi jalur Pantura, Kabupaten Subang dilintasi pula jalur jalan Alternatif Sadang Cikamurang, yang mlintas di tengah wilayah Kabupaten Subang dan menghubungkan Sadang Kabupaten Purwakarta dengan Tomo Kabupaten Sumedang, jalur ini sangat ramai terutama pada musim libur seperti lebaran. Kabupaten Subang yang berbatasan langsung dengan kabupaten Bandung disebelah selatan memiliki akses langsung yang sekaligus menghubungkan jalur pantura dengan kota Bandung. Jalur ini cukup nyaman dilalui dengan panorama alam yang amat indah berupa hamparan kebun teh yang udaranya sejuk dan melintasai kawasan pariwisata Air panas Ciater dan Gunung Tangkuban Parahu&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Penduduk Subang pada umumnya adalah Suku Sunda, yang menggunakan Bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari. Namun demikian sebagian kawasan di pesisir penduduknya menggunakan Bahasa Jawa Dialek Cirebon (Dermayon).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geografi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah Kabupaten Subang terbagi menjadi 3 bagian wilayah, yakni wilayah selatan, wilayah tengah dan wilayah utara. Bagian selatan wilayah Kabupaten Subang terdiri atas dataran tinggi/pegunungan, bsgisn tengah wilayah kabupaten Subang berupa dataran, sedangkan bagian Utara merupakan dataran rendah yang mengarah langsung ke Laut Jawa. Sebagian besar wilayah Pada bagian selatan kabupaten Subang berupa Perkebunan, baik perkebunan Negara maupun perkebunan rakyat, hutan dan lokasi pariwisata. Pada bagian tengah wilayah kabupaten Subang berkembang perkebunan karet, tebu dan buah-buahan dibiodang pertanian dan pabrik-pabrik dibidang Industri, selain perumahan dan pusat pemerintahan serta instalasi militer. Kemudian pada bagian utara wilayah kabupaten Subang berupa sawah berpengairan teknis dan tambak serta pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transportasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Subang dilewati jalur utama pada wilayah Utaranya dan dimanfaatkan juga sebagai jalur alternatif untuk ke Bandung, Cirebon atau Tasikmalaya. Lintas Subang - Bandung melalui Kalijati semakin diminati para pengemudi karena jalannya yang halus dan bebas hambatan apalagi setelah dibukanya Gerbang Tol Keluar di daerah Sadang. Persimpangan Jalancagak merupakan persimpangan strategis karena dari persimpangan tersebut dapat menjangkau Bandung - Sumedang - Sadang melalui Wanayasa dan Kota Subang sendiri. Secara kuantitas kondisi angkutan umum di kota subang belum mampu mengakomodir mobilitas masyarakat subang, hal ini disebabkan keterbatasan trayek/rute dari angkutan kota yang belum menjangkau kawasan padat penduduk secara keseluruhan, juga faktor kondisi prasarana jalan dibeberapa segmen ruas jalan di kota yang masih dalam kondisi rusak secara strukural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabuapten Subang berpenduduk 1.397.352 orang, yang terdiri atas 693.565 orang laki-laki dan 703.787 orang perempuan. Bila dilihat dari struktur umur, penduduk kabupaten Subang terdiri atas 27,41 anak-anak yang berumur antara 0 sampai dengan 14 tahun, 8,02 % usia remaja yang berumur 15 sampai dengan 19 tahun 33,83 % usia muda yakni penduduk yang berumur 20 sampai dengan 39 tahun dan 30,74 % penduduk berusia tua dan atau Lansia. Mayoritas penduduk Kabupaten Subang terdiri atas Suku Sunda, yang sebagian besar beragama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perekonomian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sebagian besar penduduknya masih berpenghasilan utama sebagai petani dan buruh perkebunan, maka perekonomian Subang masih banyak ditunjang dari sektor pertanian. Subang wilayah Selatan banyak terdapat area perkebunan, seperti karet pada bagian Barat Laut dan kebun Tehnya yang sangat luas. Subang terkenal sebagai salah satu daerah penghasil buah nenas yang umumnya kita kenal dengan nama Nenas Madu. Nenas Madu dapat kita temui di sepanjang Jalancagak yang merupakan persimpangan antara Wanayasa - Bandung - Sumedang dan Kota Subang sendiri. Dodol nenas, keripik singkong dan selai yang merupakan hasil home industry yang dapat dijadikan makanan oleh-oleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui program binaan dibawah naungan Yayasan Kandaga, para petani sedang membudidayakan jamur tiram dan perikanan di desa Cipunagara. Sedangkan di desa Cibago, selain membudidayakan jamur tiram dan tanaman hias serta tanaman nilam, Yayasan Kandaga juga menggalakkan ternak kelinci dan penyulingan minyak nilam serta bioetanol. Dan saat ini sedang diupayakan untuk membudidaya ternak kelinci, budidaya ternak lele bagi masyarakat yang memiliki sosial ekonomi kurang beruntung yang terlibat didalam Program Kesetaraan (Program Paket B) dan Keaksaraan (PBH=Pemberantasan Buta Huruf) dalam rangka menggali dan mengembangkan sumber daya lokal baik SDM maupun SDA yang ada serta untuk melestarikan budaya bangsa dan mengembangkan wisata budaya wisata agro sebagai aset bangsa khususnya di daerah tutugan G. Canggah yang berada diketinggian 1600 mdpl dengan dikelilingi panorama yang sangat mengagumkan. Sebagai akselerasi dan penggerak program diatas, Yayasan Kandaga membuat suatu pusta pelatihan dan Pemberdayaan masyarakat yang disebut PLPM Haur Kuning (Pusat Latihan dan Pemberdayaan Masyarakat "Hayu Urang Kumpul Ningkatkeun Elmu"). Hingga saat ini sudah seringkali dikunjungi dari negara Amerika, Korea dan Jerman, termasuk dari tim akademisi perguruan tinggi lokal serta para praktisi dari seluruh Indonesia dari Pendidikan Luar Sekolah (Pendidikan Non-Formal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Subang sebagian besar penduduknya yang telah beruasia diatas 40 tahun hanya mengenyam pendidikan Sekolah Dasar, sehingga untuk menggerakan perekonomian rakyat perlu ditunjang dengan keterampilan. Untuk meningkatkan pembangunan saat ini lebih ditekankan pada generasi dibawah 40 tahun. 10 % warga Subang berada diluar subang untuk sekolah dan bekerja. Kondisi ini memberikan kontribusi negatif terhadap kota Subang sendiri, disebabkan masyarakat subang yang masih dalam kategori usia produkif lebih memilih sekolah dan bekerja ke luar kawasan subang.pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana pendidikan hakikatnya sudah dirintis oleh pihak Pemda, namun kendala fasilitas penunjang demi kelancaran aktivitas pendidikan dipandang masih belum memadai. perlunya keterlibatan dari semua pihak, agar pendidikan di kota Subang bisa terselenggara dengan baik, yang tentunya akan berpengaruh terhadap kondisi kabupaten Subang secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pariwisata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara rimbunnya perkebunan Teh, diwilayah Selatan, Kabupaten Subang memiliki sumber mata air panas yang terus mengalir di daerah Ciater. Sari Ater merupakan tujuan wisata yang sangat terkenal karena ke-khasan-nya dan ramai pada saat liburan terutama pada saat liburan Hari Raya Lebaran. Sari Ater selain menyediakan kolam pemandian air panas juga memiliki penginapan - penginapan yang dikenal dengan Saung Kabayan sehingga sangat cocok bagi sebuah keluarga yang ingin berlibur. Kemudian juga terdapat klinik kebugaran (Spa) air panas yang letaknya berdekatan dengan obyek wisata Sari Ater. Selain itu Kabupaten Subang memiliki tujuan wisata alam air terjun yang memiliki pemandangan yang cukup indah dimana hingga saat ini belum dikelola secara serius yaitu Curug Cijalu yang terletak di daerah Sagalaherang dan Curug Cileat yang berada di Kecamatan Cisalak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-1734865863626400030?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/1734865863626400030/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-subang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/1734865863626400030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/1734865863626400030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-subang.html' title='Kabupaten Subang'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp50SXxnbXI/AAAAAAAAANQ/7QRfQv1rW8U/s72-c/Lambang_Kabupaten_Subang.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-7651905605322295690</id><published>2009-09-02T06:26:00.000-07:00</published><updated>2010-04-08T12:12:55.241-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kabupaten Purwakarta'/><title type='text'>Kabupaten Purwakarta</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5zZ_6i_CI/AAAAAAAAANI/fkShDLfRbzU/s1600-h/Lambang_Kab_Purwakarta.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 102px; height: 139px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5zZ_6i_CI/AAAAAAAAANI/fkShDLfRbzU/s320/Lambang_Kab_Purwakarta.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376861895617870882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kabupaten Purwakarta, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia terletak ±80 km sebelah timur Jakarta. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Karawang di bagian Barat dan sebagian wilayah Utara, Kabupaten Subang di bagian Utara dan sebagian wilayah bagian Timur, Kabupaten Bandung di bagian Selatan, dan Kabupaten Cianjur di bagian Barat Daya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Purwakarta berada pada titik-temu tiga koridor utama lalu-lintas yang sangat strategis, yaitu Purwakarta-Jakarta, Purwakarta-Bandung dan Purwakarta-Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Luas wilayah Kabupaten Purwakarta adalah 971,72 km² atau sekira 2,81% dari luas wilayah Provinsi Jawa Barat berpenduduk 782.362 jiwa (Sensus penduduk tahun 2005) dengan laju pertumbuhan penduduk rata-rata sebesar 2,42% per-tahun. Jumlah penduduk laki-laki adalah 391.061 jiwa, sedangkan jumlah penduduk perempuan adalah 391.301 jiwa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Purwakarta memiliki motto Wibawa Karta Raharja. "Wibawa" berarti berwibawa atau penuh kehormatan, "Karta" berarti ramai atau hidup, dan "Raharja' berarti keadaan sejahtera atau makmur. Sehingga “Wibawa Karta Raharja” dapat diartikan sebagai daerah yang terhormat/berwibawa, ramai/hidup, serta makmur atau sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purwakarta berasal dari suku kata "purwa" yang artinya permulaan dan "karta" yang berarti ramai atau hidup. Pemberian nama Purwakarta dilakukan setelah kepindahan ibukota Kabupaten Purwakarta dari Wanayasa ke Sindang Kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa kepindahan ibukota kabupaten ini setiap tahunnya diperingati pada tanggal 20 Juli dengan melakukan napak tilas dari Wanayasa ke Sindang Kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum penjajahan Belanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Keberadaan Purwakarta tidak terlepas dari sejarah perjuangan melawan pasukan VOC. Sekitar awal abad ke-17 Sultan Mataram mengirimkan pasukan tentara yang dipimpin oleh Bupati Surabaya ke Jawa Barat. Salah satu tujuannya adalah untuk menundukkan Sultan Banten. Tetapi dalam perjalanannya bentrok dengan pasukan VOC sehingga terpaksa mengundurkan diri.&lt;br /&gt;   Setelah itu dikirimkan kembali ekspedisi kedua dari Pasukan Mataram di bawah pimpinan Dipati Ukur serta mengalami nasib yang sama pula. Untuk menghambat perluasan wilayah kekuasaan kompeni (VOC), Sultan Mataram mengutus Penembahan Galuh (Ciamis) bernama R.A.A. Wirasuta yang bergelar Adipati Panatayuda atau Adipati Kertabumi III untuk menduduki Rangkas Sumedang (Sebelah Timur Citarum). Selain itu juga mendirikan benteng pertahanan di Tanjungpura, Adiarsa, Parakansapi dan Kuta Tandingan. Setelah mendirikan benteng tersebut Adipati Kertabumi III kemudian kembali ke Galuh dan wafat. Nama Rangkas Sumedang itu sendiri berubah menjadi Karawang karena kondisi daerahnya berawa-rawa (Sunda : "Karawaan").&lt;br /&gt;   Sultan Agung Mataram kemudian mengangkat putera Adipati Kertabumi III, yakni Adipati Kertabumi IV menjadi Dalem (Bupati) di Karawang, pada Tahun 1656. Adipati Kertabumi IV ini juga dikenal sebagai Panembahan Singaperbangsa atau Eyang Manggung, dengan ibu kota di Udug-udug.&lt;br /&gt;   Pada masa pemerintahan R. Anom Wirasuta putera Panembahan Singaperbangsa yang bergelar R.A.A. Panatayuda I antara Tahun 1679 dan 1721 ibu kota Karawang dari Udug-udug pindah ke Karawang, dengan daerah kekuasaan meliputi wilayah antara Cihoe (Cibarusah) dan Cipunagara. Pemerintahan Kabupaten Karawang berakhir sekitar tahun 1811-1816 sebagai akibat dari peralihan penguasaan Hindia-Belanda dari Pemerintahan Belanda kepada Pemerintahan Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa penjajahan Belanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Antara tahun 1819-1826 Pemerintahan Belanda melepaskan diri dari Pemerintahan Inggris yang ditandai dengan upaya pengembalian kewenangan dari para Bupati kepada Gubernur Jendral Van Der Capellen. Dengan demikian Kabupaten Karawang dihidupkan kembali sekitar tahun 1820, meliputi wilayah tanah yang terletak di sebelah Timur sungai Citarum/Cibeet dan sebelah Barat sungai Cipunagara.Dalam hal ini kecuali Onder Distrik Gandasoli, sekarang Kecamatan Plered pada waktu itu termasuk Kabupaten Bandung. Sebagai Bupati I Kabupaten Karawang yang dihidupkan kembali diangkat R.A.A. Surianata dari Bogor dengan gelar Dalem Santri yang kemudian memilih ibukota kabupaten di Wanayasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Pada masa pemerintahan Bupati R.A. Suriawinata atau Dalem Sholawat, pada tahun 1830 ibu kota dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih yang diresmikan berdasarkan besluit (surat keputusan) pemerintah kolonial tanggal 20 Juli 1831 nomor 2.&lt;br /&gt;   Pembangunan dimulai antara lain dengan pengurugan rawa-rawa untuk pembuatan Situ Buleud, Pembuatan Gedung Karesidenan, Pendopo, Mesjid Agung, Tangsi Tentara di Ceplak, termasuk membuat Solokan Gede, Sawah Lega dan Situ Kamojing. Pembangunan terus berlanjut sampai pemerintahan bupati berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kemerdekaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Kabupaten Karawang dengan ibukota Purwakarta berjalan sampai dengan tahun 1949. Pada tanggal 29 Januari 1949 dengan Surat Keputusan Wali Negeri Pasundan Nomor 12, Kabupaten Karawang dipecah dua yakni Karawang Bagian Timur menjadi Kabupaten Purwakarta dengan ibu kota di Subang dan Karawang Bagian Barat menjadi Kabupaten Karawang. Berdasarkan Undang-undang nomor 14 tahun 1950, tentang pembentukan daerah kabupaten dalam lingkungan Propinsi Jawa Barat, selanjutnya diatur penetapan Kabupaten Purwakarta, dengan ibu kota Purwakarta, yang meliputi Kewedanaan Subang, Sagalaherang, Pamanukan, Ciasem dan Purwakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembagian administratif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1968, berdasarkan Undang-undang No. 4 tahun 1968 tentang Pembentukan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang SK Wali Negeri Pasundan diubah dan ditetapkan Pembentukan Kabupaten Purwakarta dengan Wilayah Kewedanaan Purwakarta di tambah dengan masing-masing dua desa dari Kabupaten Karawang dan Cianjur sehingga pada tahun 1968 Kabuapten Purwakarta hanya memiliki 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Purwakarta, Plered, Wanayasa dan Campaka dengan jumlah desa sebanyak 70 desa. Untuk selanjutnya dilaksanakan penataan wilayah desa, kelurahan, pembentukan kemantren dan peningkatan status kemantren menjadi kecamatan yang mandiri. Maka saat itu Kabupaten Purwakarta memiliki wilayah: 183 desa, 9 kelurahan, 8 kamantren dan 11 kecamatan. Berdasarkan perkembangan Kabupaten Purwakarta, pada tahun 1989 telah dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor: 821.26-672 tanggal 29 Agustus 1989 tentang lahirnya lembaga baru yang bernama Wilayah Kerja Pembantu Bupati Purwakarta Wilayah Purwakarta yang meliputi Wilayah Kecamatan Purwakarta, Kecamatan Jatiluhur, Kecamatan Campaka, Perwakilan Kecamatan Cibungur yang pusat kedudukan Pembantu Bupati Purwakarta berada di Purwakarta. Sedangkan wilayah kerja Pembantu Bupati Wilayah Plered meliputi wilayah Kecamatan Plered, Kecamatan Darangdan, Kecamatan Tegalwaru, Kecamatan Maniis, Kecamatan Sukatani yang pusat kedudukan Pembantu Bupati Purwakarta berada di Plered. Wilayah kerja Pembantu Bupati Wilayah Wanayasa yang meliputi Kecamatan Wanayasa, Kecamatan Pasawahan, Kecamatan Bojong, Perwakilan Kecamatan Kiarapedes, Perwakilan Kecamatan Margasari, dan Perwakilan Kecamatan Parakansalam yang pusat kedudukan Pembantu Bupati Purwakarta Wilayah Wanayasa berada di Wanayasa yang telah diresmikan pada tangga 31 Januari 1990 oleh Wakil Gubernur Jawa Barat. Setelah diberlakukannya UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, serta dimulainya pelaksanaan Otonomi Daerah di Kabupaten Purwakarta tepatnya pada tanggal 1 Januari 2001. Serta melalui Peraturan Daerah No. 22 tahun 2001, telah terjadi restrukturisasi organisasi pemerintahan di Kabupaten Purwakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transportasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trayek bus umum yang melintasi Kabupaten Purwakarta antara lain tujuan Jakarta, Bandung, Bogor, Bekasi, Karawang, Cilegon, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cirebon dan kota-kota di Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. Di samping itu terdapat pula moda angkutan kereta api yang melayani tujuan Jakarta, Bandung, Semarang, Karawang, dan Bekasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat yang bermukim di sekeliling Waduk Jatiluhur, moda transportasi yang biasa digunakan adalah kapal berukuran kecil (dibawah 7 GT).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah Purwakarta dilintasi oleh ruas Jalan Tol Jakarta-Cikampek dan ruas Jalan Tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang). Gerbang Tol yang berada di wilayah Kabupaten Purwakarta adalah di Cikopo (Cikampek), Sadang dan Jatiluhur. Namun demikian di Kabupaten Purwakarta tidak terdapat satupun terminal bus yang memiliki fasilitas yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisata alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Waduk Jatiluhur, dengan luas 8.300 ha terletak ±9 km dari kota Purwakarta menawarkan sarana rekreasi dan olahraga air yang lengkap dan menarik seperti : dayung, selancar angin, ski air, power boating, perahu layar, dan kapal pesiar. Fasilitas yang tersedia adalah hotel dan bungalow, bar dan restoran, lapangan tenis, kolam renang dengan water slide, gedung pertemuan dan playground. Bagi wisata remaja, tersedia pondok remaja serta lahan yang cukup luas untuk kegiatan outbond dan perkemahan yang letaknya diperbukitan diteduhi pepohonan. Di perairan Waduk Jatiluhur ini juga terdapat budi daya ikan keramba jaring apung yang menjadi daya tarik tersendiri. Di waktu siang atau malam kita dapat memancing sambil menikmati ikan bakar. Khusus untuk educational tourism, yang ingin mengetahui seluk beluk waduk ini, Perum Jasa Tirta II menyediakan tenaga ahli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Danau Cirata, dengan luas 62 km2 berada pada ketinggian 223 m DPL dikelilingi oleh perbukitan. Jika melakukan perjalanan dari kota Purwakarta melalui Plered, akan tiba di Cirata dalam waktu ±40 menit dengan jarak sejauh 15 km. Dalam perjalanan akan melewati pusat perdagangan peuyeum Bendul dan Sentra Industri Keramik Plered disamping menikmati keindahan alam di sepanjang jalan Plered-Cirata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Situ Wanayasa adalah danau alam yang berada pada ketinggian 600 m DPL dengan luas 7 ha, terletak ±23 km dari kota Purwakarta dengan udara yang sejuk berlatar belakang Gunung Burangrang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Sumber Air Panas Ciracas. Terletak ±8 km dari Situ Wanayasa berlokasi di kaki bukit dikelilingi oleh pepohonan dan hamparan sawah dengan udara yang sejuk. Terdapat sekitar 12 titik sumber mata air panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Air terjun Curug Cipurut dapat ditempuh dengan berjalan kaki sepanjang ± 3 km ke arah Selatan kota Wanayasa, merupakan tempat yang nyaman untuk rekreasi baik hiking maupun camping ground. Berada pada ketinggian 750 m DPL.&lt;br /&gt;   * Gunung Parang adalah obyek wisata alam yang menyediakan sarana untuk rock climbing. Terletak 28 km dari kota Purwakarta berada pada ketinggian 983 m DPL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Gua Jepang berlokasi ±28 Km dari kota Purwakarta, memiliki ketinggian sekitar 700 m DPL, dikelilingi perkebunan teh, pohon pinus, cengkeh, manggis dan termasuk dalam kawasan puncak Gunung Burangrang. Gua Jepang merupakan gua buatan yang dibangun oleh Jepang (Romusha) sekira tahun 1943 untuk digunakan sebagai tempat persembunyian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Desa Wisata Bojong terletak di Desa Pasanggrahan Kecamatan Bojong ±35 km dari Kota Purwakarta, berada pada ketinggian ±650 m DPL dikelilingi pepohonan, bukit, hamparan sawah, pemandangan alam Gunung Burangrang dan areal perkebunan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Situ Buleud, adalah danau seluas 4 ha berbentuk bulat yang terletak di tengah kota Purwakarta. Situ buleud merupakan landmark Purwakarta. Konon Situ Buleud tempo dulu merupakan tempat "pangguyangan" (mandi/berendam) badak, kemudian pada masa pemerintahan kolonial Belanda dijadikan sebagai tempat peristirahatan. Kini Situ Buleud menjadi tempat rekreasi dan olah raga bagi penduduk Purwakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisata budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Gedung Negara, dibangun tahun 1854 pada masa kolonial Belanda dengan gaya arsitektur Eropa. Kini Gedung Negara menjadi Kantor Bupati Purwakarta.&lt;br /&gt;   * Gedung Karesidenan, seusia dengan Gedung Negara dibangun pada zaman pemerintahan kolonial Belanda. Kini menjadi Kantor Badan Koordinasi Wilayah IV terletak di Jalan KK. Singawinata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Mesjid Agung, terletak di samping Gedung Negara dibangun pada tahun 1826 pada masa kolonial Belanda. Mesjid ini mulai dipugar pada tahun 1993 dengan tetap mempertahankan bentuk asli dan nilai sejarahnya, kemudian diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat pada tahun 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Sentra Industri Keramik Plered, terletak di Desa Anjun ±13 km dari kota Purwakarta. Industri ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1904 menghasilkan keramik berkualitas diekspor ke manca negara antara lain Jepang, Belanda, Thailand, dan Singapura. Jenis keramik yang dihasilkan antara lain gerabah, terakota dan porselen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Industri Kain Songket, diproduksi oleh PT. Sinar sejak tahun 1956 untuk di ekspor ke Brunei dan konsumsi dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Kesenian Buncis dan Domyak merupakan kesenian khas Purwakarta disamping wayang golek, celempungan, tari-tarian, degung, ketuk tilu, jaipongan, tungbrung, reog, calung dan kesenian-kesenian daerah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisata Ziarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Makam RA. Suriawinata. Seorang pendiri kota Purwakarta yang meninggal tahun 1827, beliau merupakan Bupati Karawang ke-9 dimakamkan di tengah Situ Wanayasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Makam Baing Yusuf adalah makam Syech Baing Yusuf yang meninggal pada tahun 1856 terletak di belakang Mesjid Agung Purwakarta. Ia merupakan seorang ulama besar pada zamannya bermukim di Kaum (Paimbaran Mesjid Agung) Purwakarta dan mendirikan pondok pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Makam Mama Sempur. KH. TB. Ahmad Bakri atau lebih dikenal dengan Mama Sempur adalah seorang ulama besar pada zamannya yang wafat tahun 1975 pada usia 128 tahun, dimakamkan di Desa Sempur Kecamatan Plered, sekitar 16 Km dari kota Purwakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wisata Kuliner&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Makanan khas Purwakarta adalah Sate Maranggi, yang membedakan dengan sate lainnya adalah bumbu kecapnya yang diolah hingga memilki cita rasa unik-asam, manis, pedas. Disamping sate maranggi, rumah-rumah makan khas Sunda yang menyajikan ikan bakar, pepes, ayam goreng lengkap dengan sambal dadakan juga banyak terdapat di Purwakarta.&lt;br /&gt;   Oleh-oleh khas Purwakarta adalah simping, peuyeum Bendul, gula aren Cikeris, manisan pala, teh hijau, colenak, dan opak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-7651905605322295690?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/7651905605322295690/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-purwakarta.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/7651905605322295690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/7651905605322295690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-purwakarta.html' title='Kabupaten Purwakarta'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5zZ_6i_CI/AAAAAAAAANI/fkShDLfRbzU/s72-c/Lambang_Kab_Purwakarta.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-2151614733767552527</id><published>2009-09-02T06:23:00.000-07:00</published><updated>2010-04-08T12:13:39.641-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kabupaten Majalengka'/><title type='text'>Kabupaten Majalengka</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5yMl5xXmI/AAAAAAAAANA/zgM04rGPMLI/s1600-h/Lambang_Kabupaten_Majalengka.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 163px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5yMl5xXmI/AAAAAAAAANA/zgM04rGPMLI/s200/Lambang_Kabupaten_Majalengka.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376860565785370210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kabupaten Majalengka, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Majalengka. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Indramayu di utara, Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan di timur, Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya di selatan, serta Kabupaten Sumedang di barat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Majalengka terdiri atas 23 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Majalengka. Kantor Bupati terletak di Alun-alun Majalengka berdekatan dengan Masjid Agung Al Imam.&lt;br /&gt;Bagian utara wilayah kabupaten ini adalah dataran rendah, sedang di bagian selatan berupa pegunungan. Gunung Ciremai (3.076 m) berada di bagian timur, yakni di perbatasan dengan Kabupaten Kuningan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pada tahun 2010 direncanakan Bandara Internasional Majalengka akan mulai dibangun.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Majalengka dilintasi jalan provinsi (jalur Cirebon-Sumedang-Bandung). Dahulu kabupaten ini dilintasi jalur kereta api Cirebon-Palimanan-Kadipaten, namun saat ini tidak difungsikan lagi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-2151614733767552527?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/2151614733767552527/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-majalengka.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/2151614733767552527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/2151614733767552527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-majalengka.html' title='Kabupaten Majalengka'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5yMl5xXmI/AAAAAAAAANA/zgM04rGPMLI/s72-c/Lambang_Kabupaten_Majalengka.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-1559208084683200289</id><published>2009-09-02T06:15:00.000-07:00</published><updated>2010-04-08T12:14:35.622-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kabupaten Kuningan'/><title type='text'>Kabupaten Kuningan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5xZFwi1UI/AAAAAAAAAM4/Ji0i6GO9Dzc/s1600-h/Logo_Kabupaten_kuningan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 87px; height: 93px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5xZFwi1UI/AAAAAAAAAM4/Ji0i6GO9Dzc/s320/Logo_Kabupaten_kuningan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376859680983405890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kabupaten Kuningan, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Kuningan. Letak astronomis kabupaten ini di antara 108°23" - 108°47" Bujur Timur dan 6°45" - 7°13" Lintang Selatan. Kabupaten ini terletak di bagian timur Jawa Barat, berbatasan dengan Kabupaten Cirebon di utara, Kabupaten Brebes (Jawa Tengah) di timur, Kabupaten Ciamis di selatan, serta Kabupaten Majalengka di barat. Kabupaten Kuningan terdiri atas 32 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 361 desa dan 15 kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Kuningan.&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagian timur wilayah kabupaten ini adalah dataran rendah, sedang di bagian barat berupa pegunungan, dengan puncaknya Gunung Ciremai (3.076 m) di perbatasan dengan Kabupaten Majalengka. Gunung Ciremai adalah gunung tertinggi di Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Kuningan terbagi dalam beberapa wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Darma, Kadugede, Nusaherang, Ciniru,Hantara, Selajambe, Subang, Cilebak, Ciwaru, Karangkancana, Cibingbin, Cibeureum, Luragung, Cimahi, Cidahu, Kalimanggis, Ciawigebang, Cipicung, Lebakwangi, Maleber, Garawangi, Sindang Agung, Kuningan, Cigugur, Kramatmulya, Jalaksana, Japara, Cilimus, Cigandamekar, Mandirancan, Pancalang, dan Pasawahan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa Pra sejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperkirakan ± 3.500 tahun sebelum masehi sudah terdapat kehidupan manusia di daerah Kuningan, hal ini berdasarkan pada beberapa peninggalan kehidupan di zaman pra sejarah yang menunjukkan adanya kehidupan pada zaman Neoliticum dan batu-batu besar yang merupakan peninggalan dari kebudayaan Megaliticum. Bukti peninggalan tersebut dapat dijumpai di Kampung Cipari Kelurahan Cigugur yaitu dengan ditemukannya peninggalan pra-sejarah pada tahun 1972, berupa alat dari batu obsidian (batu kendan), pecahan-pecahan tembikar, kuburan batu, pekakas dari batu dan keramik. Sehingga diperkirakan pada masa itu terdapat pemukiman manusia yang telah memiliki kebudayaan tinggi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Situs Cipari mengalami dua kali masa pemukiman, yaitu masa akhir Neoleticum dan awal pengenalan bahan perunggu berkisar pada tahun 1000 SM sampai dengan 500 M. Pada waktu itu masyarakat telah mengenal organisasi yang baik serta kepercayaan berupa pemujaan terhadap nenek moyang (animisme dan dinamisme). Selain itu diketemukannya pula peninggalan adat dari batu-batui besar dari zaman megaliticum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa Hindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam carita Parahyangan disebutkan bahwa ada suatu pemukiman yang mempunyai kekuatan politik penuh seperti halnya sebuah negara, bernama Kuningan. Kerajaan Kuningan tersebut berdiri setelah Seuweukarma dinobatkan sebagai Raja yang kemudian bergelar Rahiyang Tangkuku atau Sang Kuku yang bersemayam di Arile atau Saunggalah. Seuweukarma menganut ajaran Dangiang Kuning dan berpegang kepada Sanghiyang Dharma (Ajaran Kitab Suci) serta Sanghiyang Riksa (sepuluh pedoman hidup). Ekspansi kekuasaan Kuningan pada zaman kekuasaan Seuweukarma menyeberang sampai ke negeri Melayu. Pada saat itu masyarakat Kuningan merasa hidup aman dan tentram di bawah pimpinan Seuweukarma yang bertahta sampai berusia lama. Berdasarkan sumber carita Parahyangan juga, bahwa sebelum Sanjaya menguasai Kerajaan Galuh, dia harus mengalahkan dulu Sang Wulan - Sang Tumanggal - dan Sang Pandawa tiga tokoh penguasa di Kuningan (= Triumvirat), yaitu tiga tokoh pemegang kendali pemerintahan di Kuningan sebagaimana konsep Tritangtu dalam konsep pemerintahan tradisional suku Sunda Buhun. Sang Wulan, Tumanggal, dan Pandawa ini menjalankan pemerintahan menurut adat tradisi waktu itu, yang bertindak sebagai Sang Rama, Sang Resi, dan Sang Ratu. Sang Rama bertindak selaku pemegang kepala adat, Sang Resi selaku pemegang kepala agama, dan Sang Ratu kepala pemerintahan. Makanya Kerajaan Kuningan waktu dikendalikan tokoh ‘Triumvirat’ ini berada dalam suasana yang gemah ripah lohjinawi, tata tentrem kerta raharja, karena masing-masing dijalankan oleh orang yang ahli di bidangnya. Tata aturan hukum/masalah adat selalu dijalankan adan ditaati, masalah kepercayaan / agama begitu juga pemerintahannya. Semuanya sejalan beriringan selangkah dan seirama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Kuningan diperintah Resiguru Demunawan pun (menantu Sang Pandawa), Kerajaan Kuningan memiliki status sebagai Kerajaan Agama (Hindu). Hal ini nampak dari ajaran-ajaran Resiguru Demunawan yang mengajarkan ilmu Dangiang Kuning - keparamartaan, sehingga Kuningan waktu menjadi sangat terkenal. Dalam naskah carita Parahyangan disebutkan kejayaan Kuningan waktu diperintah Resiguru Demunawan atau dikenal dengan nama lain Sang Seuweukarma (penguasa/pemegang Hukum) atau Sang Ranghyangtang Kuku/Sang Kuku, kebesaran Kuningan melebihi atau sebanding dengan Kebesaran Galuh dan Sunda (Pakuan). Kekuasaannya meliputi Melayu, Tuntang, Balitar, dan sebagainya. Hanya ada 3 nama tokoh raja di Jawa Barat yang berpredikat Rajaresi, arti seorang pemimpin pemerintahan dan sekaligus ahli agama (resi). Mereka itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Resi Manikmaya dari Kerajaan Kendan (sekitar Cicalengka - Bandung)&lt;br /&gt;  2. Resi Demunawan dari Saunggalah Kuningan&lt;br /&gt;  3. Resi Niskala Wastu Kencana dari Galuh Kawali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan kerajaan Kuningan selanjutnya seakan terputus, dan baru pada 1175 masehi muncul lagi. Kuningan pada waktu itu menganut agama Hindu di bawah pimpinan Rakean Darmariksa dan merupakan daerah otonom yang masuk wilayah kerajaan Sunda yang terkenal dengan nama Pajajaran. Cirebon juga pada tahun 1389 masehi masuk kekuasaan kerajaan Pajajaran, namun pada abad ke-15 Cirebon sebagai kerajaan Islam menyatakan kemerdekaannya dari Pakuan Pajajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Kuningan pada masa Islam tidak lepas dari pengaruh kesultanan Cirebon. Pada tahun 1470 masehi datang ke Cirebon seorang ulama besar agama Islam yaitu Syeh Syarif Hidayatullah putra Syarif Abdullah dan ibunya Rara Santang atau Syarifah Modaim putra Prabu Syarif Hidayatullah adalah murid Sayid Rahmat yang lebih dikenal dengan nama Sunan Ampel yang memimpin daerah ampeldenta di Surabaya. Kemudian Syeh Syarif Hidayatullah ditugaskan oleh Sunan Ampel untuk menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat, dan mula-mula tiba di Cirebon yang pada waktu Kepala Pemerintahan Cirebon dipegang oleh Haji Doel Iman. Pada waktu 1479 masehi Haji Doel Iman berkenan menyerahkan pimpinan pemerintahan kepada Syeh Syarif Hidayatullah setelah menikah dengan putrinya. Karena terdorong oleh hasrat ingin menyebarkan agama Islam, pada tahun 1481 Masehi Syeh Syarif Hidayatullah berangkat ke daerah Luragung, Kuningan yang masuk wilayah Cirebon Selatan yang pada waktu itu dipimpin oleh Ki Gedeng Luragung yang bersaudara dengan Ki Gedeng Kasmaya dari Cirebon, selanjutnya Ki Gedeng Luragung memeluk agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu Syeh Syarif Hidayatullah di Luragung, Kuningan, datanglah Ratu Ontin Nio istrinya dalam keadaan hamil dari negeri Cina (bergelar: Ratu Rara Sumanding) ke Luragung, Kuningan, dari Ratu Ontin Nio alias Ratu Lara Sumanding lahir seorang putra yang tampan dan gagah yang diberi nama Pangeran Kuningan. setelah dari Luragung, Kuningan, Syeh Syarif Hidayatullah dengan rombongan menuju tempat tinggal Ki Gendeng Kuningan di Winduherang, dan menitipkan Pangeran Kuningan yang masih kecil kepada Ki Gendeng Kuningan agar disusui oleh istri Ki Gendeng Kuningan, karena waktu itu Ki Gendeng Kuningan mempunyai putera yang sebaya dengan Pangeran Kuningan namanya Amung Gegetuning Ati yang oleh Syeh Syarif Hidayatullah diganti namanya menjadi Pangeran Arya Kamuning serta beliau memberikan amanat bahwa kelak dimana Pangeran Kuningan sudah dewasa akan dinobatkan menjadi Adipati Kuningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Pangeran Kuningandan Pangeran Arya Kamuning tumbuh dewasa, diperkirakan tepatnya pada bulan Muharam tanggal 1 September 1498 Masehi, Pangeran Kuningan dilantik menjadi kepala pemerintahan dengan gelar Pangeran Arya Adipati Kuningan (Adipati Kuningan) dan dibantu oleh Arya Kamuning. Maka sejak itulah dinyatakan sebagai titik tolak terbentuknya pemerintahan Kuningan yang selanjutnya ditetapkan menjadi tanggal hari jadi Kuningan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuknya Agama Islam ke Kuningan nampak dari munculnya tokoh-tokoh pemimpin Kuningan yang berasal atau mempunyai latar belakang agama. Sebut saja Syekh Maulana Akbar, yang akhirnya menikahkan putranya, bernama Syekh Maulana Arifin, dengan Nyai Ratu Selawati penguasa Kuningan waktu itu (putra Prabu Langlangbuana). Hal ini menandai peralihan kekuasaan dari Hindu ke Islam yang memang berjalan dengan damai melalui ikatan perkawinan. Waktu itu di Kuningan muncul pedukuhan-pedukuhan yang bermula dari pembukaan-pembukaan pondok pesantren, seperti Pesantren Sidapurna (menuju kesempurnaan), Syekh Rama Ireng (Balong Darma). Termasuk juga diantaranya pesantren Lengkong oleh Haji Hasan Maulani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letak Geografis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Kuningan terletak pada titik koordinat 108° 23 - 108° 47 Bujur Timur dan 6° 47 - 7° 12 Lintang Selatan. Sedangkan ibu kotanya terletak pada titik koordinat 6° 45 - 7° 50 Lintang Selatan dan 105° 20 - 108° 40 Bujur Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari posisi geografisnya terletak di bagian timur Jawa Barat berada pada lintasan jalan regional yang menghubungkan kota Cirebon dengan wilayah Priangan Timur dan sebagai jalan alternatif jalur tengah yang menghubungkan Bandung-Majalengka dengan Jawa Tengah. Secara administratif berbatasan dengan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Sebelah Utara : Kabupaten Cirebon&lt;br /&gt;   * Sebelah Timur : Kabupaten Brebes (Jawa Tengah)&lt;br /&gt;   * Sebelah Selatan : Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap (Jawa Tengah)&lt;br /&gt;   * Sebelah Barat : Kabupaten Majalengka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Kuningan terdiri atas 32 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 361 desa dan 15 kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Kuningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian timur wilayah kabupaten ini adalah dataran rendah, sedang di bagian barat berupa pegunungan, dengan puncaknya Gunung Ciremai (3.076 m) di perbatasan dengan Kabupaten Majalengka. Gunung Ciremai adalah gunung tertinggi di Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;opografi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permukaan tanah Kabupaten Kuningan relatif datar dengan variasi berbukit-bukit terutama Kuningan bagian Barat dan bagian Selatan yang mempunyai ketinggian berkisar 700 meter di atas permukaan laut, sampai ke dataran yang agak rendah seperti wilayah Kuningan bagian Timur dengan ketinggian antara 120 meter sampai dengan 222 meter di atas permukaan laut.&lt;br /&gt;Tabel Elevasi ketinggian tanah wilayah Kabupaten Kuningan&lt;br /&gt;No  Ketinggian (dpl)  Luas (Ha)  Luas (%)&lt;br /&gt;1  25 - 100  10.915,47  9,26&lt;br /&gt;2  100 - 500  69.414,92  58,90&lt;br /&gt;3  500 - 1000  30.538,15  25,91&lt;br /&gt;4  &gt; 1000  6.989,01  5,93&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi wilayah Kabupaten Kuningan yang berada di kaki gunung Ciremai (lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut) sangat bervariasi yaitu dengan ketinggian antara 25 - 2.000 meter di atas permukaan laut. Sebagian besar wilayah Kabupaten Kuningan berada pada ketinggian antara 500 - 1.000 meter di atas permukaan laut yang mencapai 58,90%, sedangkan wilayah dengan ketinggian di atas 1.000 dpl hanya 6,08%. Kondisi itupun menyebabkan Kabupaten Kuningan mempunyai kemiringan yang bervariasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketinggian di suatu tempat mempunyai pengaruh terhadap suhu udara, oleh sebab itu ketinggian merupakan salah saru faktor yang menentukan dalam pola penggunaan lahan untuk pertanian, karena setiap jenis tanaman menghendaki suhu tertentu sesuai dengan karakteristik tanaman yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiringan tanah yang dimiliki Kabupaten Kuningan terdiri dari : dataran rendah, dataran tinggi, perbukitan, lereng, lembah dan pegunungan. Karakter tersebut memiliki bentang alam yang cukup indah dan udara yang sejuk, sangat potensial bagi pengembangan pariwisata.&lt;br /&gt;Tabel Luas kemiringan tanah Kabupaten Kuningan&lt;br /&gt;No  Kemiringan (%)  Luas (Ha)  Luas (%)&lt;br /&gt;1  0 - 8  28.275,88  23,99&lt;br /&gt;2  8 - 15  18.985,78  16,11&lt;br /&gt;3  15 - 25  24.373,88  20,68&lt;br /&gt;4  25 - 40  17.043,02  14,46&lt;br /&gt;5  &gt; 40  29.178,99  24,76&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar tekstur tanah termasuk kedalaman tekstur sedang dan sebagian kecil termasuk tekstur halus. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap tingkat kepekaan yang rendah dan sebagian kecil sangat tinggi terhadap erosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat kepekaan terhadap erosi disebabkan ketidaksesuaian antara penggunaan tanah dengan kemampuannya sehingga berakibat rusaknya proses fisika, kimia dan biologi tanah tersebut. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap besar kecilnya intensitas tingkat kepekatan terhadap terhadap erosi adalah faktor : lereng, sistem penggarapan, pengolahan tanah, jenis tanah dan prosentase penutup tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat kepekaan erosi di Kabupaten Kuningan diklasifikasikan menjadi lima kelas, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Sangat Peka : 14.258,42 Ha&lt;br /&gt;   * Peka : 17.568,96 Ha&lt;br /&gt;   * Agak Peka : 20.473,43 Ha&lt;br /&gt;   * Kurang Peka : 21.845,69 Ha&lt;br /&gt;   * Tidak Peka : 36.307,00 Ha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penelitian tanah tinjau Kabupaten Kuningan memiliki 7 (tujuh) golongan tanah yaitu : Andosol, Alluvial, Podzolik, Gromosol, Mediteran, Latosol dan Regosol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Golongan tanah Andosol terdapat di bagian barat kecamatan Kuningan yang cocok untuk ditanami tembakau, bunga-bungaan, sayuran, buah-buahan, kopi, kina, teh, pinus dan apel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Golongan tanah Alluvial terdapat di bagian timur Kecamatan Kuningan, Kecamatan Kadugede bagian utara, Kecamatan Lebakwangi bagian utara, Kecamatan Garawangi dan Kecamatan Cilimus cocok untuk tanaman sawah, palawija dan perikanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Golongan tanah Podzolik terdapat di bagian selatan kecamatan Kadugede, bagian timur kecamatan Ciniru, bagian timur kecamatan Luragung, bagian selatan kecamatan Lebakwangi dan kecamatan Ciwaru cocok untuk ladang dan tanaman keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demografi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk Kabupaten Kuningan Tahun 2007 Menurut Hasil Suseda sebanyak 1.102.354 orang dengan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) sebesar 1,17% pertahun. Penduduk laki-laki sebanyak 549.118 orang dan penduduk perempuan sebanyak 553.236 orang dengan sex ratio sebesar 99,3 % artinya jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibanding penduduk laki-laki. Diperkiran hampir 25% penduduk Kuningan bersifat comuter, mereka banyak yang bermigrasi ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk Kuningan umumnya adalah suku Sunda yang menggunakan Bahasa Sunda dalam kesehariannya, namun untuk daerah perbatasan dengan Jawa tengah mereka juga ada yang bertutur dengan menggunakan bahasa Jawa. Bahasa Sunda yang digunakan di Kuningan memiliki ciri tersendiri (bahasa wewengkon) dibandingkan dengan bahasa Sunda yang digunakan di daerah Priangan barat. Mayoritas Penduduk Kuningan beragama Islam sekitar 98% (di daerah desa Manislor terdapat komunitas penduduk yang menganut aliran Ahmadiyah), lainnnya beragama Kristen Katolik yang tersebar di wilayah Cigugur, Cisantana, Citangtu, Cibunut, sedangkan sisanya beragama Protestan dan Budha yang kebanyakan terdapat di kota Kuningan. Di wilayah Cigugur juga terdapat penduduk yang menganut aliran kepercayaan yang disebut Aliran Jawa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagain besar penduduk kabupaten Kuningan bermatapencaharian sebagai petani (petani penggarap dan buruh tani), dan lainnya bekerja sebagai Pedagang, Pegawai negeri Sipil, TNI, Polisi, Wiraswasta dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka beban tanggungan (Dependency Ratio) Kabupaten Kuningan tahun 2007 kondisinya tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya yaitu mencapai angka 50,00. Angka beban tanggungan (ABT) merupakan perbandngan antara penduduk yang belum/tidak produktif (usia 0 - 14 Tahun dan usia 65 tahu ke atas) dibanding dengan penduduk usia produktif (usia 15 - 64 tahun), berarti pada tahun 2007 setiap 100 penduduk usia produktif di Kabupaten Kuningan menanggung sebanyak 50 penduduk usia belum/tidak produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut data Suseda tahun 2006, persentase penduduk dewasa yang melek huruf di Kabupaten Kuningan mencapai 94,75 % sedangkan hasil Suseda 2007 menunjuken adanya perbaikan menjadi 95,52%. Begitu pula rata-rata lama sekolah, pada tehun 2006, rata-rata lama sekolah penduduk Kabupaten Kuningan sekitar 7,16 tahun meningkat menjadi 7,55 tahun di tahun 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingginya AMH Kabupaten Kuningan disumbang oleh Kecamatan Kuningan, Kuningan dengan AMH tertinggi sebesar 99,83 % sedangkan AMH terendah dicapai oleh Kecamatan Cibingbin, Kuningan dengan AMH 80,24 persen, Sedangkan untuk RLS tertinggi tetap dicapai oleh Kecamatan Kuningan, Kuningan dengan RLS 9,59 tahun sedangkan yang terendah dicapal oleh Kecamatan Hantara, Kuningan dengan RLS 5,47 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persentase penduduk Kabupaten Kuningan usia 10 tahun ke atas yang berpendidikan SD ke bawah sebesar 72,66 persen; tamat SMP sebesar 13,73 persen; tamat SMU/SMK sebesar 10,88 persen; dan sebanyak 2,72 persen yang tamat pendidikan tinggi (Akademi/Perguruan Tinggi). Berarti dari 1.000 orang penduduk 10 tahun ke atas hanya 27 orang yang berkesempatan menyelesaikan pendldikan tinggi (Diploma, Akademi, Perguruan tinggi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni dan Budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai wilayah yang berada di daerah Priangan timur, kabupaten Kuningan kaya akan seni budaya Sunda yang khas, berbeda dari wilayah Sunda bagian barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah Kabupaten, Kuningan dipimpin oleh seorang bupati. Bupati sebelumnya dipilih oleh DPRD. Tetapi untuk tahun 2008, pertama kalinya Kabupaten Kuningan mengadakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Bupati secara langsung. Pilkada ini diikuti oleh tiga pasangan, yang dimenangkan oleh incumbent H. Aang Hamid Suganda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisata Alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Talaga Remis&lt;br /&gt;   * Taman Wisata Alam Linggajati&lt;br /&gt;   * Waduk Darma&lt;br /&gt;   * Sangkanhurip&lt;br /&gt;   * Desa Sitonjul&lt;br /&gt;   * Air Terjun Sidomba&lt;br /&gt;   * Curug Cilengkrang&lt;br /&gt;   * Palutungan &amp;amp; Curug Putri&lt;br /&gt;   * Curug Ngelay&lt;br /&gt;   * curug SiDomba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisata Budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Taman purbakala Cipari&lt;br /&gt;   * Linggajati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisata Hutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Desa Setianegara&lt;br /&gt;   * Desa Jambrati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisata Ziarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Cibulan&lt;br /&gt;   * Balong Keramat Darmaloka&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-1559208084683200289?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/1559208084683200289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-kuningan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/1559208084683200289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/1559208084683200289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-kuningan.html' title='Kabupaten Kuningan'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5xZFwi1UI/AAAAAAAAAM4/Ji0i6GO9Dzc/s72-c/Logo_Kabupaten_kuningan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-1201063738396109710</id><published>2009-09-02T06:12:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T06:15:45.642-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kabupaten Karawang'/><title type='text'>Kabupaten Karawang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5vuVaDpoI/AAAAAAAAAMw/p1HOIGaaUxg/s1600-h/Lambang_Kabupaten_Karawang.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 113px; height: 143px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5vuVaDpoI/AAAAAAAAAMw/p1HOIGaaUxg/s320/Lambang_Kabupaten_Karawang.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376857846938052226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kabupaten Karawang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Karawang. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor di barat, Laut Jawa di utara, Kabupaten Subang di timur, Kabupaten Purwakarta di tenggara, serta Kabupaten Cianjur di selatan.&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebagian besar wilayah Kabupaten Karawang adalah dataran rendah, dan di sebagian kecil di wilayah selatan berupa dataran tinggi.&lt;br /&gt;Wilayah Kabupaten Karawang sebagian besar tertutup dataran pantai yang luas, yang terhampar di bagian pantai Utara dan merupakan batuan sedimen yang dibentuk oleh bahan–bahan lepas terutama endapan laut dan aluvium vulkanik. Di bagian tengah ditempati oleh perbukitan terutama dibentuk oleh batuan sedimen, sedang di bagian Selatan terletak Gunung Sanggabuana dengan ketinggian ± 1.291 m diatas permukaan laut.&lt;br /&gt;Sesuai dengan bentuk morfologinya Kabupaten Karawang terdiri dari dataran rendah yang mempunyai temperatur udara rata-rata 270C dengan tekanan udara rata-rata 0,01 milibar, penyinaran matahari 66 persen dan kelembaban nisbi 80 persen. Curah hujan tahunan berkisar antara 1.100 – 3.200 mm/tahun. Pada bulan Januari sampai April bertiup angin Muson Laut dan sekitar bulan Juni bertiup angin Muson Tenggara. Kecepatan angin antara 30 – 35 km/jam, lamanya tiupan rata-rata 5 – 7 jam.&lt;br /&gt;Kabupaten Karawang dilalui oleh aliran sungai yang melandai ke arah utara: Ci Tarum, yang merupakan pemisah Kabupaten Karawang dari Kabupaten Bekasi, dan Ci Lamaya, yang merupakan batas wilayah dengan Kabupaten Subang. Selain sungai, terdapat juga tiga buah saluran irigasi yang besar yaitu Saluran Induk Tarum Utara, Saluran Induk Tarum Tengah dan Saluran Induk Tarum Barat yang dimanfaatkan untuk pengairan sawah, tambak, dan pembangkit tenaga listrik.&lt;br /&gt;Sejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat tiga pendapat mengenai asal muasal nama Karawang. Pendapat-pendapat itu masing-masing menyebutkan asal kata yang berbeda-beda: Krawang, Kerawang, dan Karawaan.[1] Wilayah Karawang sudah sejak lama dihuni manusia. Peninggalan Situs Batujaya dan Situs Cibuaya menunjukkan pemukiman pada awal masa modern yang mungkin mendahului masa Kerajaan Taruma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk Karawang semula beragama Hindu dan wilayah ini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda. Semenjak takluk dari Kesultanan Banten, Karawang berada di bawah kendali Banten. Agama Islam mulai dipeluk masyarakat setempat setelah seorang patron bernama Syekh Hasanudin bin Yusuf Idofi, konon dari Makkah, yang terkenal dengan sebutan "Syekh Quro", memberikan ajaran; yang kemudian dilanjutkan oleh murid-murid Wali Sanga. Makam Syeikh Quro terletak di Pulobata, Kecamatan Lemahabang, Karawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai suatu daerah berpemerintahan sendiri tampaknya dimulai semenjak Karawang direbut oleh Kesultanan Mataram, di bawah pimpinan Wiraperbangsa dari Sumedang Larang tahun 1632. Kesuksesannya menempatkannya sebagai wedana pertama dengan gelar Adipati Kertabumi III. Semenjak masa ini, sistem irigasi mulai dikembangkan di Karawang dan perlahan-lahan daerah ini menjadi daerah pusat penghasil beras utama di Pulau Jawa hingga akhir abad ke-20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Karawang menjadi kabupaten dengan bupati pertama Raden Singaperbangsa bergelar Kertabumi IV yang dilantik 14 September 1633. Tanggal ini menjadi hari jadi Kabupaten Karawang. Selanjutnya, bupatinya berturut-turut adalah R. Anom Wirasuta 1677-1721, R. Jayanegara (gelar R.A Panatayuda II) 1721-1731, R. Martanegara (R. Singanagara dengan gelar R. A Panatayuda III) 1731-1752, R. Mohamad Soleh (gelar R. A Panatayuda IV) 1752-1786.[2] Pada rentang ini terjadi peralihan penguasa dari Mataram kepada VOC (Kompeni).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa menjelang Kemerdekaan Indonesia, Kabupaten Karawang menyimpan banyak catatan sejarah. Rengasdengklok merupakan tempat disembunyikannya Soekarno dan Hatta oleh para pemuda Indonesia untuk secepatnya merumuskan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 16 Agustus 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Karawang juga menjadi inspirasi sastrawan Chairil Anwar menulis karya Antara Karawang-Bekasi karena peristiwa pertempuran di daerah sewaktu pasukan dari Divisi Siliwangi harus meninggalkan Bekasi menuju Karawang yang masih menjadi daerah kekuasaan Republik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecamatan Rengasdengklok adalah daerah pertama milik Republik Indonesia yang telah berani mengibarkan bendera Merah Putih sebelum Proklamasi kemerdekaan Indonesia.[rujukan?] Oleh karena itu selain dikenal dengan sebutan Kota Lumbung Padi Karawang juga sering disebut sebagai Kota Pangkal Perjuangan. Di Rengasdengklok didirikan sebuah monumen yang dibangun oleh masyarakat sekitar, kemudian pada masa pemerintahan Megawati didirikan Tugu Kebulatan Tekad untuk mengenang sejarah Republik Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-1201063738396109710?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/1201063738396109710/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-karawang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/1201063738396109710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/1201063738396109710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-karawang.html' title='Kabupaten Karawang'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5vuVaDpoI/AAAAAAAAAMw/p1HOIGaaUxg/s72-c/Lambang_Kabupaten_Karawang.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-1112698998078435850</id><published>2009-09-02T06:09:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T06:11:36.580-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kabupaten Indramayu'/><title type='text'>Kabupaten Indramayu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5u_S1k1pI/AAAAAAAAAMo/qqmj8MH7ZeA/s1600-h/Lambang_Kabupaten_Indramayu.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 176px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5u_S1k1pI/AAAAAAAAAMo/qqmj8MH7ZeA/s200/Lambang_Kabupaten_Indramayu.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376857038794315410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kabupaten Indramayu, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Indramayu. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Cirebon di tenggara, Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Sumedang, serta Kabupaten Subang di barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Indramayu terdiri atas 31 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 313 desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Indramayu, yang berada di pesisir Laut Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indramayu dilintasi jalur pantura, yakni salah satu jalur terpadat di Pulau Jawa, terutama pada musim mudik. Kabupaten ini juga dilintasi jalur kereta api lintas utara Pulau Jawa, dengan stasiun terbesar di Jatibarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kota-kota penting di wilayah kabupaten Indramayu diantaranya adalah Indramayu, Jatibarang,Haurgeulis, Sukadana (Wilayah Kecamatan Tukdana), dan Karangampel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk Indramayu di wilayah pesisir pada umumnya menggunakan Bahasa Indramayu yang mirip Dialek Cirebon pada kehidupan sehari-hari, dan mereka menyebutnya dialek Dermayon. Sedangkan di bagian selatan, menggunakan Bahasa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang indramayu terkenal temperamental, suka tawuran antar desa bahkan antar RT. perempuan indramayu terkenal dan sudah masyhur sebagai pekerja dibidang bisnis esek-esek walaupun sekarang nampaknya kesejahteraan rakyat indramayu mulai meningkat dan mulai meninggalkan bidang prostitusi namun image yang terlanjur melekat sangat sukar dihilangkan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-1112698998078435850?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/1112698998078435850/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-indramayu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/1112698998078435850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/1112698998078435850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-indramayu.html' title='Kabupaten Indramayu'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5u_S1k1pI/AAAAAAAAAMo/qqmj8MH7ZeA/s72-c/Lambang_Kabupaten_Indramayu.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-4014004575930472745</id><published>2009-09-02T06:04:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T06:09:21.635-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kabupaten Garut'/><title type='text'>Kabupaten Garut</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5uXEfG6FI/AAAAAAAAAMg/C8JAU798z2I/s1600-h/Lambang_Kabupaten_Garut.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 137px; height: 164px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5uXEfG6FI/AAAAAAAAAMg/C8JAU798z2I/s320/Lambang_Kabupaten_Garut.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376856347747215442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kabupaten Garut, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Garut. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Sumedang di utara, Kabupaten Tasikmalaya di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung di barat.&lt;br /&gt;Sebagian besar wilayah kabupaten ini adalah pegunungan, kecuali di sebagian pantai selatan berupa dataran rendah yang sempit. Di antara gunung-gunung di Garut adalah: Gunung Papandayan (2.262 m) dan Gunung Guntur (2.249 m), keduanya terletak di perbatasan dengan Kabupaten Bandung, serta Gunung Cikuray (2.821 m) di selatan kota Garut.&lt;br /&gt;Kabupaten Garut terletak di Provinsi Jawa Barat bagian Tenggara pada koordinat 6º56'49 - 7 º45'00 Lintang Selatan dan 107º25'8 - 108º7'30 Bujur Timur. Kabupaten Garut memiliki luas wilayah administratif sebesar 306.519 Ha (3.065,19 km²) dengan batas-batas sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Utara: Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang&lt;br /&gt;   * Timur: Kabupaten Tasikmalaya&lt;br /&gt;   * Selatan: Samudera Indonesia&lt;br /&gt;   * Barat: Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Garut yang secara geografis berdekatan dengan Kota Bandung sebagai ibukota provinsi Jawa Barat, merupakan daerah penyangga dan hinterland bagi pengembangan wilayah Bandung Raya. Oleh karena itu, Kabupaten Garut mempunyai kedudukan strategis dalam memasok kebutuhan warga Kota dan Kabupaten Bandung, sekaligus berperan di dalam pengendalian keseimbangan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Iklim dan Cuaca&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum iklim di wilayah Kabupaten Garut dapat dikatagorikan sebagai daerah beriklim tropis basah (humid tropical climate) karena termasuk tipe Af sampai Am dari klasifikasi iklim Koppen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan studi data sekunder, iklim dan cuaca di daerah Kabupaten Garut dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu : pola sirkulasi angin musiman (monsoonal circulation pattern), topografi regional yang bergunung-gunung di bagian tengah Jawa Barat; dan elevasi topografi di Bandung. Curah hujan rata-rata tahunan di sekitar Garut berkisar antara 2.589 mm dengan bulan basah 9 bulan dan bulan kering 3 bulan, sedangkan di sekeliling daerah pegunungan mencapai 3500-4000 mm. Variasi temperatur bulanan berkisar antara 24ºC - 27ºC. Besaran angka penguap keringatan (evapotranspirasi) menurut Iwaco-Waseco (1991) adalah 1572 mm/tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama musim hujan, secara tetap bertiup angin dari Barat Laut yang membawa udara basah dari Laut Cina Selatan dan bagian barat Laut Jawa. Pada musim kemarau, bertiup angin kering bertemperatur relatif tinggi dari arah Australia yang terletak di tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Geomorfologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentang alam Kabupaten Garut Bagian Utara terdiri dari atas dua aransemen bentang alam, yaitu : (1) dataran dan cekungan antar gunung berbentuk tapal kuda membuka ke arah utara, (2) rangkaian-rangkaian gunung api aktif yang mengelilingi dataran dan cekungan antar gunung, seperti komplek G. Guntur - G. Haruman - G. Kamojang di sebelah barat, G. Papandayan - G. Cikuray di sebelah selatan tenggara, dan G. Cikuray - G. Talagabodas - G. Galunggung di sebelah timur. Bentang alam di sebelah Selatan terdiri dari dataran dan hamparan pesisir pantai dengan garis pantai sepanjang 80 Km.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evolusi bentang alam Kabupaten Garut khususnya Garut Utara dapat dijelaskan melalui 2 (dua) pendekatan hipotesis, yaitu: (1) Bemmelen (1949) berpendapat bahwa terbentuknya tataan bentang alam, khususnya di sekitar Garut, dikontrol oleh aktivitas volkanik yang berlangsung pada periode Kuarter (sekitar 2 juta tahun lalu sampai sekarang). Setelah terjadi pergerakan tektonik yang memicu pembentukan pegunungan di akhir Pleistosen, terjadilah deformasi regional yang digerakan oleh beberapa patahan, seperti patahan Lembang, patahan Kancana, dan patahan Malabar-Tilu. Khusus di sekitar dataran antar gunung Garut diperkirakan telah terjadi suatu penurunan (depresi) akibat isostasi (proses menuju keseimbangan) dari batuan dasar dan pembebanan batuan sedimen volkaniklasik diatasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Menurut konsep Tektonik Lempeng (Hamilton, 1979), proses pembentukan gunung api di Zona Bandung tidak terlepas dari proses pembentukan busur magmatis Sunda yang dikontrol oleh aktivitas penunjaman (subduksi) Lempeng Samudera Hindia yang menyusup sekitar 6-10 cm/tahun di bawah Lempeng Kontinen Asia. Bongkahan (slab) lempeng samudera setebal lebih dari 12 km tersebut akan tenggelam ke mantel bagian luar yang bersuhu lebih dari 3000°, sehingga mengalami pencairan kembali. Akibat komposisi lempeng kerak samudera bersifat basa, sedangkan mantel bagian luar bersifat asam, maka pada saat pencairan akan terjadi asimilasi magma yang memicu bergeraknya magma ke permukaan membentuk busur magmatis berkomposisi andesitis-basaltis. Setelah terbentuk busur magmatis, pergerakan tektonik internal (intra-arctectonics) selanjutnya bertindak sebagai penyebab utama terjadinya proses perlipatan, patahan, dan pembentukan cekungan antar gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Topografi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibukota Kabupaten Garut berada pada ketinggian 717 m dpl dikelilingi oleh Gunung Karacak (1838 m), Gunung Cikuray (2821 m), Gunung Papandayan (2622 m), dan Gunung Guntur (2249 m).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik topografi Kabupaten Garut sebelah Utara terdiri dari dataran tinggi dan pegunungan, sedangkan bagian Selatan sebagian besar permukaannya memiliki tingkat kecuraman yang terjal dan di beberapa tempat labil. Kabupaten Garut mempunyai ketinggian tempat yang bervariasi antara wilayah yang paling rendah yang sejajar dengan permukaan laut hingga wilayah tertinggi d ipuncak gunung. Wilayah yang berada pada ketinggian 500-100 m dpl terdapat di kecamatan Pakenjeng dan Pamulihan dan wilayah yang berada pada ketinggian 100-1500 m dpl terdapat di kecamatan Cikajang, Pakenjeng-Pamulihan, Cisurupan dan Cisewu. Wilayah yang terletak pada ketinggian 100-500 m dpl terdapat di kecamatan Cibalong, Cisompet, Cisewu, Cikelet dan Bungbulang serta wilayah yang terletak di daratan rendah pada ketinggian kurang dari 100 m dpl terdapat di kecamatan Cibalong dan Pameungpeuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian pegunungan vulkanik yang mengelilingi dataran antar gunung Garut Utara umurnya memiliki lereng dengan kemiringin 30-45% disekitar puncak, 15-30% di bagian tengah, dan 10-15% di bagian kaki lereng pegunungan. Lereng gunung tersebut umumnya ditutupi vegetasi cukup lebat karena sebagian diantaranya merupakan kawasan konservasi alam. Wilayah Kabupaten Garut mempunyai kemiringan lereng yang bervariasi antara 0-40%, diantaranya sebesar 71,42% atau 218.924 Ha berada pada tingkat kemiringan antara 8-25%. Luas daerah landai dengan tingkat kemiringan dibawah 3% mencapai 29.033 Ha atau 9,47%; wilayah dengan tingkat kemiringan sampai dengan 8% mencakup areal seluas 79.214 Ha atau 25,84%; luas areal dengan tingkat kemiringan sampai 15% mencapai 62.975 Ha atau 20,55% wilayah dengan tingkat kemiringan sampai dengan 40% mencapai luas areal 7.550 Ha atau sekitar 2.46%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan arah alirannya, sungai-sungai di wilayah Kabupaten Garut dibagi menjadi dua daerah aliran sungai (DAS) yaitu Daerah Aliran Utara yang bermuara di Laut Jawa dan Daerah Aliran Selatan yang bermuara di Samudera Indonesia. Daerah aliran selatan pada umumnya relatif pendek, sempit dan berlembah-lembah dibandingkan dengan daerah aliran utara. Daerah aliran utara merupakan DAS Cimanuk Bagian Utara, sedangkan daerah aliran selatan merupakan DAS Cikaengan dan Sungai Cilaki. Wilayah Kabupaten Garut terdapat 33 buah sungai dan 101 anak sungai dengan panjang sungai seluruhnya 1.397,34 Km; dimana sepanjang 92 Km diantaranya merupakan panjang aliran Sungai Cimanuk dengan 58 buah anak sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan interpretasi citra landsat Zona Bandung, nampak bahwa pola aliran sungai yang berkembang di wilayah dataran antar gunung Garut Utara menunjukan karakter mendaun, dengan arah aliran utama berupa sungai Cimanuk menuju ke utara. Aliran Sungai Cimanuk dipasok oleh cabang-cabang anak sungai yang berasal dari lereng pegunungan yang mengelilinginya. Secara individual, cabang-cabang anak sungai tersebut merupakan sungai-sungai muda yang membentuk pola penyaliran sub-paralel, yang bertindak sebagai subsistem dari DAS Cimanuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Geologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan peta geologi skala 1 : 100.000 lembar Arjawinangun, Bandung dan Garut yang dikompilasi oleh Ratman &amp;amp; Gafor (1998) menjadi peta geologi skala 1 : 500.000, tataan dan urutan batuan penyusun di wilayah Kabupaten Garut bagian utara didominasi oleh material vulkanik yang berasosiasi dengan letusan (erupsi) gunungapi, diantaranya erupsi G. Cikuray, G. Papandayan dan G. Guntur. Erupsi tersebut berlangsung beberapa kali secara sporadik selama periode Kuarter (2 juta tahun) lalu, sehingga menghasilkan material volkanis berupa breksi, lava, lahar dan tufa yang mengandung kwarsa dan tumpuk menumpuk pada dataran antar gunung di Garut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batuan tertua yang tersingkap di lembah Sungai Cimanuk diantaranya adalah breksi volkanik bersifat basaltic yang kompak, menunjukan kemas terbuka dengan komponen berukuran kerakal sampai bongkah. Secara umum, batuan penyusun dataran antar gunung Garut didominasi oleh material volkaniklasik berupa alluvium berupa pasir, kerakal, kerikil, dan Lumpur. Jenis tanah komplek podsolik merah kekuning-kuningan, podsolik kuning dan regosol merupakan bagian yang paling luas terutama di bagian Selatan, sedangkan di bagian Utara didominasi tanah andosol yang memberikan peluang terhadap potensi usaha sayur-mayur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan Lahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedasarkan jenis tanah dan medan topografi di Kabupaten Garut, penggunaan lahan secara umum di Garut Utara digunakan untuk persawahan dan Garut Selatan didominasi oleh perkebunan dan hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Transportasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibukota kabupaten Garut berada di jalur Bandung-Garut-Tasikmalaya. Tapi bukan merupakan daerah transit, karena biasanya mereka yang mau ke Tasikmalaya, lebih memilih jalur Malangbong untuk dilewati.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-4014004575930472745?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/4014004575930472745/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-garut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/4014004575930472745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/4014004575930472745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-garut.html' title='Kabupaten Garut'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5uXEfG6FI/AAAAAAAAAMg/C8JAU798z2I/s72-c/Lambang_Kabupaten_Garut.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-326462961504062161</id><published>2009-09-02T06:01:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T06:04:29.159-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kabupaten Cirebon'/><title type='text'>Kabupaten Cirebon</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5tH0QwAqI/AAAAAAAAAMY/TIIVPQEzHRc/s1600-h/Lambang_Kabupaten_Cirebon.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 157px; height: 219px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5tH0QwAqI/AAAAAAAAAMY/TIIVPQEzHRc/s320/Lambang_Kabupaten_Cirebon.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376854986182361762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kabupaten Cirebon, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Sumber. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Brebes (Jawa Tengah) di timur, Kabupaten Kuningan di selatan, Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Indramayu di barat, serta Kota Cirebon dan Laut Jawa di utara.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kabupaten Cirebon terdiri atas 40 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Sumber, yang berada di sebelah selatan Kota Cirebon.&lt;br /&gt;Cirebon berada di jalur pantura, sebagai pintu gerbang utama provinsi Jawa Barat di sebelah timur, yakni di kecamatan Losari. Pada waktu musim mudik, jalur ini merupakan salah satu yang terpadat di Indonesia. Cirebon juga terapat jalan tol Palimanan-Kanci.&lt;br /&gt;Cirebon merupakan salah satu kabupaten terpadat di Jawa Barat. Penduduk Cirebon di bagian utara umumnya menggunakan Bahasa Jawa Dialek Cirebon sebagai bahasa sehari-hari. Dialek Cirebon merupakan ragam Bahasa Jawa yang cukup berbeda dengan Bahasa Jawa Standar, yang dituturkan di pesisir timur Jawa Barat. Sedangkan penduduk di bagian selatan pada umumnya telah terpengaruh oleh budaya Sunda.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-326462961504062161?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/326462961504062161/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-cirebon.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/326462961504062161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/326462961504062161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-cirebon.html' title='Kabupaten Cirebon'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5tH0QwAqI/AAAAAAAAAMY/TIIVPQEzHRc/s72-c/Lambang_Kabupaten_Cirebon.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-683216839226848746</id><published>2009-09-02T05:57:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T06:00:46.977-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kabupaten Cianjur'/><title type='text'>Kabupaten Cianjur</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5sSMTpGxI/AAAAAAAAAMQ/O8CjVq2-K9Q/s1600-h/Lambang_Kabupaten_Cianjur.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 90px; height: 99px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5sSMTpGxI/AAAAAAAAAMQ/O8CjVq2-K9Q/s320/Lambang_Kabupaten_Cianjur.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376854064924007186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kabupaten Cianjur, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Cianjur. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Purwakarta di utara, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Sukabumi di barat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kabupaten Cianjur terdiri atas 32 Kecamatan, 342 Desa dan 6 Kelurahan.Pusat pemerintahan di Kecamatan Cianjur.&lt;br /&gt;Sebagian besar wilayah Cianjur adalah pegunungan, kecuali di sebagian pantai selatan berupa dataran rendah yang sempit.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Lahan-lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultura, peternakan, perikanan, perkebunan dan kehutanan merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat. Keadaan itu ditunjang dengan banyaknya sungai besar dan kecil yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya pengairan tanaman pertanian. Sungai terpanjang di Cianjur adalah Sungai Cibuni, yang bermuara di Samudra Hindia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari luas wilayah Kabupaten Cianjur 350.148 hektar, pemanfaatannya meliputi 83.034 Ha (23,71 %) berupa hutan produktif dan konservasi, 58,101 Ha (16,59 %) berupa tanah pertanian lahan basah, 97.227 Ha (27,76 %) berupa lahan pertanian kering dan tegalan, 57.735 Ha (16,49 %) berupa tanah perkebunan, 3.500 Ha (0,10 %) berupa tanah dan penggembalaan / pekarangan, 1.239 Ha (0,035 %) berupa tambak / kolam, 25.261 Ha (7,20 %) berupa pemukiman / pekarangan dan 22.483 Ha (6.42 %) berupa penggunaan lain-lain.&lt;br /&gt;Tiga abad silam merupakan saat bersejarah bagi Cianjur. Karena berdasarkan sumber - sumber tertulis , sejak tahun 1614 daerah Gunung Gede dan Gunung Pangrango ada di bawah Kesultanan Mataram. Tersebutlah sekitar tanggal 12 Juli 1677, Raden Wiratanu putra R.A. Wangsa Goparana Dalem Sagara Herang mengemban tugas untuk mempertahankan daerah Cimapag dari kekuasaan kolonial Belanda yang mulai menanamkan kekuasaan di tanah nusantara. Upaya Wiratanu untuk mempertahankan daerah ini juga erat kaitannya dengan desakan Belanda / VOC saat itu yang ingin mencoba menjalin kerjasama dengan Sultan Mataram Amangkurat I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sikap patriotik Amangkurat I yang tidak mau bekerjasama dengan Belanda / VOC mengakibatkan ia harus rela meninggalkan keraton tanggal 12 Juli 1677. Kejadian ini memberi arti bahwa setelah itu Mataram terlepas dari wilayah kekuasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertengahan abad ke 17 ada perpindahan rakyat dari Sagara Herang yang mencari tempat baru ke pinggiran sungai untuk bertani dan bermukim. Babakan atau kampoung mereka dinamakan menurut nama sungai dimana pemukiman itu berada. Seiring dengan itu Raden Djajasasana putra Aria Wangsa Goparana dari Talaga keturunan Sunan Talaga, terpaksa meninggalkan Talaga karena masuk Islam, sedangkan para Sunan Talaga waktu itu masih kuat memeluk Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana daerah beriklim tropis, maka di wilayah Cianjur utara tumbuh subur tanaman sayuran, teh dan tanaman hias. Di wilayah Cianjur Tengah tumbuh dengan baik tanaman padi, kelapa dan buah-buahan. Sedangkan di wilayah Cianjur Selatan tumbuh tanaman palawija, perkebunan teh, karet, aren, cokelat, kelapa serta tanaman buah-buahan. Potensi lain di wilayah Cianjur Selatan antara lain obyek wisata pantai yang masih alami dan menantang investasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aria Wangsa Goparana kemudian mendirikan Nagari Sagara Herang dan menyebarkan Agama Islam ke daerah sekitarnya. Sementara itu Cikundul yang sebelumnya hanyalah merupakan sub nagari menjadi Ibu Nagari tempat pemukiman rakyat Djajasasana. Beberapa tahun sebelum tahun 1680 sub nagari tempat Raden Djajasasana disebut Cianjur (Tsitsanjoer-Tjiandjoer).&lt;br /&gt;Cianjur memiliki filosofi yang sangat bagus, yakni ngaos, mamaos dan maenpo yang mengingatkan pada kita semua tentang 3 (tiga) aspek keparipurnaan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Ngaos adalah tradisi mengaji yang mewarnai suasana dan nuansa Cianjur dengan masyarakat yang dilekati dengan keberagamaan. Citra sebagai daerah agamis ini konon sudah terintis sejak Cianjur lahir sekitar tahun 1677 dimana wilayah Cianjur ini dibangun oleh para ulama dan santri tempo dulu yang gencar mengembangkan syiar Islam. Itulah sebabnya Cianjur juga sempat mendapat julukan gudang santri dan kyai. Bila di tengok sekilas sejarah perjuangan di tatar Cianjur jauh sebelum masa perang kemerdekaan, bahwa kekuatan-kekuatan perjuangan kemerdekaan pada masa itu tumbuh dan bergolak pula di pondok-pondok pesantren. Banyak pejuang-pejuang yang meminta restu para kyai sebelum berangkat ke medan perang. Mereka baru merasakan lengkap dan percaya diri berangkat ke medan juang setelah mendapat restu para kyai.&lt;br /&gt;  2. Mamaos adalah seni budaya yang menggambarkan kehalusan budi dan rasa menjadi perekat persaudaraan dan kekeluargaan dalam tata pergaulan hidup. Seni mamaos tembang sunda Cianjuran lahir dari hasil cipta, rasa dan karsa Bupati Cianjur R. Aria Adipati Kusumahningrat yang dikenal dengan sebutan Dalem Pancaniti. Ia menjadi pupuhu (pemimpin) tatar Cianjur sekitar tahun 1834-1862. Seni mamaos ini terdiri dari alat kecapi indung (Kecapi besar dan Kecapi rincik (kecapi kecil) serta sebuah suling yang mengiringi panembanan atau juru. Pada umumnya syair mamaos ini lebih banyak mengungkapkan puji-pujian akan kebesaran Tuhan dengan segala hasil ciptaan-Nya.&lt;br /&gt;  3. Sedangkan Maen Po adalah seni bela diri pencak silat yang menggambarkan keterampilan dan ketangguhan. Pencipta dan penyebar maen po ini adalah R. Djadjaperbata atau dikenal dengan nama R. H. Ibrahim, aliran ini mempunyai ciri permainan rasa yaitu sensitivitas atau kepekaan yang mampu membaca segala gerak lawan ketika anggota badan saling bersentuhan. Dalam maenpo dikenal ilmu Liliwatan (penghindaran) dan Peupeuhan (pukulan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila filosofi tersebut diresapi, pada hakekatnya merupakan symbol rasa keber-agama-an, kebudayaan dan kerja keras. Dengan keber-agama-an sasaran yang ingin dicapai adalah terciptanya keimanan dan ketaqwaan masyarakat melalui pembangunan akhlak yang mulia. Dengan kebudayaan, masyarakat cianjur ingin mempertahankan keberadaannya sebagai masyarakat yang berbudaya, memiliki adab, tatakrama dan sopan santun dalam tata pergaulan hidup. Dengan kerja keras sebagai implementasi dari filosofi maenpo, masyarakat Cianjur selalu menunjukan semangat keberdayaan yang tinggi dalam meningkatkan mutu kehidupan. Liliwatan, tidak semata-mata permainan beladiri dalam pencak silat, tetapi juga ditafsirkan sebagai sikap untuk menghindarkan diri dari perbuatan yang maksiat. Sedangkan peupeuhan atau pukulan ditafsirkan sebagai kekuatan didalam menghadapi berbagai tantangan dalam hidup.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-683216839226848746?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/683216839226848746/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-cianjur.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/683216839226848746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/683216839226848746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-cianjur.html' title='Kabupaten Cianjur'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5sSMTpGxI/AAAAAAAAAMQ/O8CjVq2-K9Q/s72-c/Lambang_Kabupaten_Cianjur.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-5643594352356630041</id><published>2009-09-02T05:52:00.000-07:00</published><updated>2010-09-19T13:17:13.073-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kabupaten Bogor'/><title type='text'>Kabupaten Bogor</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5rZLR2I0I/AAAAAAAAAMI/4Qe_SwfMU58/s1600-h/Lambang_Kabupaten_Bogor.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 190px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5rZLR2I0I/AAAAAAAAAMI/4Qe_SwfMU58/s200/Lambang_Kabupaten_Bogor.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376853085395493698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bogor Regency is a regency in West Java province, Indonesia. The capital is Cibinong. The county is adjacent to Tangerang (Banten), Depok, Bekasi City and Bekasi District in the north, County Donegal in the east, Cianjur and Sukabumi district in the south, and Lebak (Banten) in the west. Bogor regency consists of 40 districts, which are further divided over a number of villages and wards. Central government in the District of Cibinong.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor Regency generally consist of three regions and 40 districts. Sub-district was divided over a number of villages and wards. Bogor district government center is located in Bogor District, located in the northern city of Bogor.&lt;br /&gt;&lt;/ Div&gt; Eastern District of Bogor is a favorite area development of residential areas in Jakarta today. The main reason is because it has opened a new route from Cibubur to Bandung through Gunung Putri and Cullinan. This path does not yet have an official name, while names are commonly used public is Alternative Way Cibubur-Cullinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Since the opening of the Alternative Way, a modern residential complex with a large scale soon emerge so that the price of land in this area became one of the most expensive in Bodetabek. The appearance of this residential complexes lead to very many people who have jobs in Bogor regency in Jakarta. One such resident is the sixth President of the Republic of Indonesia, Mr. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). He lived in the village of Cikeas, Gunung Putri District and worked at the Merdeka Palace&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The northern part of the Bogor Regency is a lowland (valley Cisadane River and River, is the southern part of the mountains, with peaks: Mount Mist (1764 m), Gunung Salak (2211 m), and Mount Gede Pangrango (3018 m) which is the highest mountain both in West Java.&lt;br /&gt;Bogor Regency traversed by the Jakarta-Bogor toll road-Ciawi (Jagorawi). This toll road is the main tourist route from Jakarta to Bandung. This path route Toll Road Jagorawi-Bandung-Puncak-Cianjur. Ciawi Line-Peak is one of the busiest holiday season, because the area is a vacation place in Jakarta and surrounding residents.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If the main tourist route is jammed, which usually happens on holidays, it can use an alternative route through Cibubur-Cullinan-Jonggol-Cariu-Cianjur, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For rail transportation, there are lines KRL Jakarta-Bogor, where the path of this fire kerata continued to Sukabumi, Cianjur, and finally in Padalarang, this path together with the railway line from Highway which then would lead Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tourism &amp; Places of Interest&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  1. Peak&lt;br /&gt;  2. Safari Park&lt;br /&gt;  3. Cibodas Botanical Garden&lt;br /&gt;  4. Gunung Salak Endah (Gn. Bunder)&lt;br /&gt;  5. Mount Gede Pangrango&lt;br /&gt;  6. Mount Salak&lt;br /&gt;  7. Sentul International Circuit&lt;br /&gt;  8. Mekarsari Park&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         This park is located in Jonggol, Cullinan and is one of the centers of biodiversity conservation of tropical fruits in the world, especially the kind of superior fruits collected from all regions in Indonesia. In addition to preservation activities, was also investigated cultivation (agronomy), breeding (breeding) and seed multiplication and then disseminated to farmers and the general public.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-5643594352356630041?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/5643594352356630041/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-bogor.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/5643594352356630041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/5643594352356630041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-bogor.html' title='Kabupaten Bogor'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5rZLR2I0I/AAAAAAAAAMI/4Qe_SwfMU58/s72-c/Lambang_Kabupaten_Bogor.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-6611660518434615115</id><published>2009-09-02T05:49:00.001-07:00</published><updated>2010-09-19T13:15:58.311-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kabupaten Bekasi'/><title type='text'>Kabupaten Bekasi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5qSqdWuMI/AAAAAAAAAMA/lPsBKFpER5o/s1600-h/Lambang_Kabupaten_Bekasi.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 318px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5qSqdWuMI/AAAAAAAAAMA/lPsBKFpER5o/s320/Lambang_Kabupaten_Bekasi.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376851873994553538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kabupaten Bekasi, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Cikarang. Kabupaten ini berada tepat di sebelah timur Jakarta, berbatasan dengan Kota Bekasi dan Provinsi DKI Jakarta di barat, Laut Jawa di barat dan utara, Kabupaten Karawang di timur, serta Kabupaten Bogor di selatan. Kabupaten Bekasi terdiri atas 23 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Sebagian besar wilayah Bekasi adalah dataran rendah dengan bagian selatan yang berbukit-bukit. Kabupaten Bekasi dipimpin oleh bupati H. Sa'duddin dan wakil bupati Darip Mulyana yang dicalonkan oleh fraksi PKS, yang memerintah sejak 2007. Perwakilan di DPRD Kabupaten Bekasi terdiri dari 50 orang, dengan komposisi hasil Pemilu Legislatif 2009 sebagai berikut: Partai Demokrat sembilan kursi, Partai Golkar delapan kursi, PKS delapan kursi, PDIP tujuh kursi, PPP empat kursi, PAN empat kursi, PKB tiga kursi, PBB dua kursi, Partai Hanura dua kursi, dan Partai Gerindra satu kursi. Dua belas di antaranya adalah anggota periode sebelumnya. Bekasi merupakan kawasan pertumbuhan Jakarta, dan menjadi bagian dari kawasan Jabotabek (belakangan menjadi Jabodetabek). Bekasi dilintasi ruas jalan tol Jakarta-Cikampek dan jalur kereta api Jakarta-Surabaya. KRL Jakarta-Bekasi hanya tersedia sampai kawasan Bekasi barat. Perekonomian Kabupaten Bekasi ditopang oleh sektor pertanian, perdagangan dan perindustrian. Banyak industri manufaktur yang terdapat di Bekasi, diantaranya kawasan industri Jababeka, EJIP, Delta Silicon, MM2100, BIIE dan sebagainya. Kawasan-kawasan industri tersebut kini digabung menjadi sebuah Zona Ekonomi Internasional (ZONI) yang memiliki fasilitas khusus di bidang perpajakan, infrastruktur, keamanan dan fiskal.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketikkan teks atau alamat situs web atau terjemahkan dokumen.&lt;br /&gt;Batal&lt;br /&gt;Simak&lt;br /&gt;Terjemahan Bahasa Indonesia ke Inggris&lt;br /&gt;Bekasi Regency is a regency in West Java province, Indonesia. The capital is Cikarang. The county is located just east of Jakarta, adjacent to the City of Bekasi and Jakarta Province to the west, the Java Sea in the west and north, County Donegal in the east, and south of Bogor Regency. Bekasi District consists of 23 districts, which are further divided over a number of villages and wards.&lt;br /&gt;Most of the lowland area of Bekasi is a part of the hilly south.&lt;br /&gt;Bekasi regent led by H. Sa'duddin and vice regent Darip Mulyana who was nominated by the fraction of the MCC, who ruled since 2007. Representative in the Bekasi district legislature consisting of 50 persons, with the composition of the legislative elections in 2009 as follows: Democratic Party nine seats, eight seats Golkar Party, MCC eight seats, seven seats PDIP, PPP four seats, four seats PAN, PKB three seats, the United Nations two chairs, two chairs Hanura, and Gerindra Party one seat. Twelve of them are members of the previous period.&lt;br /&gt;Bekasi is a growing area of Jakarta, and become part of the Greater Jakarta area (later became the Greater Jakarta). Traversed by the toll road Bekasi-Jakarta route Cikampek and Jakarta-Surabaya railway. KRL Jakarta-Bekasi Bekasi area is only available to the west.&lt;br /&gt;Bekasi Regency economy is sustained by agriculture, trade and industry. Many manufacturing industries located in Bekasi, including Jababeka industrial estate, EJIP, Delta Silicon, MM2100, BIIE and so forth. Industrial areas are now combined into an international economic zone (ZONI) which has special facilities in the field of taxation, infrastructure, security and fiscal matters.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-6611660518434615115?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/6611660518434615115/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-bekasi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/6611660518434615115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/6611660518434615115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-bekasi.html' title='Kabupaten Bekasi'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5qSqdWuMI/AAAAAAAAAMA/lPsBKFpER5o/s72-c/Lambang_Kabupaten_Bekasi.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-2430953212929246221</id><published>2009-09-02T05:45:00.000-07:00</published><updated>2010-09-19T13:15:09.244-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kabupaten Bandung Barat'/><title type='text'>Kabupaten Bandung Barat</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5pa_MYUfI/AAAAAAAAAL4/gT9yvfOOCgc/s1600-h/Lambang_Kabupaten_Bandung_Barat.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 311px; height: 291px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5pa_MYUfI/AAAAAAAAAL4/gT9yvfOOCgc/s320/Lambang_Kabupaten_Bandung_Barat.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376850917487825394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;West Bandung Regency is a regency in West Java province, Indonesia, as a result of expansion of Bandung regency. The county is bordered by County Purwakarta and Subang district in the west and north, Bandung regency and Cimahi in the east, and Cianjur regency in the west and east.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;West Bandung regency inherited approximately 1.4 million people from 42.9% the old area of Bandung regency. West Bandung regency government center located in District Ngamprah, located in Bandung-Jakarta route.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-2430953212929246221?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/2430953212929246221/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-bandung-barat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/2430953212929246221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/2430953212929246221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-bandung-barat.html' title='Kabupaten Bandung Barat'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5pa_MYUfI/AAAAAAAAAL4/gT9yvfOOCgc/s72-c/Lambang_Kabupaten_Bandung_Barat.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-2795796599234279358</id><published>2009-09-02T05:40:00.000-07:00</published><updated>2010-09-19T13:14:11.341-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kabupaten Bandung'/><title type='text'>Kabupaten Bandung</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5ofJpL-aI/AAAAAAAAALw/q90goKq2K4w/s1600-h/Lambang_Kabupaten_Bandung.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5ofJpL-aI/AAAAAAAAALw/q90goKq2K4w/s200/Lambang_Kabupaten_Bandung.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376849889500854690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bandung Regency is a regency in West Java province, Indonesia. The capital is Soreang. The county is bordered by West Bandung regency, Bandung, Cimahi, and Sumedang in the north, Garut regency in east and south, West Bandung regency in the west and south of the Cianjur Regency.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Since the year 2007, based on Law Number 12 Year 2007, is separated into districts and the District of Bandung Regency Bandung West (with its capital at Ngamprah). Appointed as Plt. Regent West Bandung are Drs. Tjatja Kuswara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung regency consists of 31 districts, which are subdivided into 277 villages / wards (post-split). Government center is located in District Soreang.&lt;br /&gt;Most of the Bandung area is the mountains. Among the peaks are: the north lies Mount Bukittunggul (2200 m), Mount Tangkubanperahu (2076 m) on the border with Purwakarta Regency. (Both are now included in West Bandung regency). While in the south lies Mount Patuha (2334 m), Mount Malabar (2321 m), and the volcano (2262 m) and Gunung Guntur (2249 m), both on the border with Garut regency.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-2795796599234279358?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/2795796599234279358/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-bandung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/2795796599234279358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/2795796599234279358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-bandung.html' title='Kabupaten Bandung'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5ofJpL-aI/AAAAAAAAALw/q90goKq2K4w/s72-c/Lambang_Kabupaten_Bandung.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-4729359531905351603</id><published>2009-09-02T05:35:00.000-07:00</published><updated>2010-09-19T13:12:45.034-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kabupaten Tasikmalaya'/><title type='text'>Kabupaten Tasikmalaya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5nJJVsVAI/AAAAAAAAALg/6M_fyYud7Xk/s1600-h/Lambang_Tasikmalaya.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 180px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5nJJVsVAI/AAAAAAAAALg/6M_fyYud7Xk/s320/Lambang_Tasikmalaya.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376848411950339074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tasikmalaya Regency is a regency in West Java province, Indonesia. The capital is Singaparna, about 380 km southeast of Jakarta. The county is bordered to the north of Majalengka, Ciamis and Tasikmalaya District in the eastern Indian Ocean in the south, and Garut District in the west.&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt; Tasikmalaya regency consists of 39 districts, divided again over 348 villages and wards. Tasikmalaya town had become part of the Tasikmalaya regency but has now become an autonomous city since June 21, 2001. Since then, the central government gradually transferred to this district Singaparna District.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Large areas of Tasikmalaya Regency is mountains, with peaks and Mount Galunggung Telagabodas. Tarlac has a tropical climate with average temperatures in the lowlands 20 ° -34 ° C and on the plateau of 18 ° -22 ° C. The average rainfall is 2072 mm / year.&lt;br /&gt;Tasikmalaya District has a number of universities, including University Siliwangi, Islamic Institute Cipasung (IAIC) and the Institute of Islamic Singaparna Mubarokiyah Latifah (IAILM) Suryalaya. In addition, Tasikmalaya is known to have a number of Islamic boarding schools scattered in almost all districts.&lt;br /&gt;Tasikmalaya economy generally relies on agriculture, animal husbandry, and fisheries, while also relying on the mining sector, such as sand Galunggung who have good enough quality for building materials, industrial, and trade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasikmalaya, especially in the era before the 1980's, known as the economic base of the people and small and medium enterprises such as handicrafts from bamboo, batik, and paper umbrellas. In addition, the city is also known as credit city due to the many traders and nomads of this region who work as traders who use the credit system. Kreditan commodities generally are grocery items and household needs. However, very regrettably, in line with the policy of massive investment in the 1990s, the economic potential of people in this region tend to be marginalized, even excluded.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-4729359531905351603?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/4729359531905351603/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-tasikmalaya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/4729359531905351603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/4729359531905351603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-tasikmalaya.html' title='Kabupaten Tasikmalaya'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5nJJVsVAI/AAAAAAAAALg/6M_fyYud7Xk/s72-c/Lambang_Tasikmalaya.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-4597349915006636166</id><published>2009-09-02T05:31:00.000-07:00</published><updated>2010-09-19T13:11:20.219-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kabupaten Ciamis'/><title type='text'>Kabupaten Ciamis</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5mIoKfpGI/AAAAAAAAALY/c67aCblwqgk/s1600-h/Lambang_kabupaten_ciamis.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 122px; height: 176px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5mIoKfpGI/AAAAAAAAALY/c67aCblwqgk/s320/Lambang_kabupaten_ciamis.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376847303533372514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ciamis Regency, is a district in West Java province, Indonesia. Its capital is Ciamis City. The county is located in the southeastern part of West Java, bordering Majalengka and Kuningan district in the northern district of Cilacap (Central Java) and Banjar in the eastern Indian Ocean in the south, and Tarlac City and Tasikmalaya District in the west.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciamis District consists of 30 districts, which are further divided over a number of villages and wards. Central government in the District of Ciamis.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecamatan Banjar, which was once part of Ciamis district, enhanced status and became an administrative city, and since the date of December 11, 2002 is set to be city (autonomous), separated from Ciamis district.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Since approximately five years ago, there were discourses to blossom again Ciamis district (post-release of Banjar and its surroundings into a definitive City), namely by making the District of South Ciamis District covers the southern half of the parent, but it still continues to be discussed at the Legislative District Ciamis, given the tightening non-written rules for the implementation of a regional administrative division (province and regency / municipality). Dimaklum inappropriate, therefore formed a new administrative area will drain a large fund, while the state budget (from central) and budget (from the province) should be dijalurkan to things that are more urgent.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-4597349915006636166?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/4597349915006636166/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-ciamis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/4597349915006636166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/4597349915006636166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/kabupaten-ciamis.html' title='Kabupaten Ciamis'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp5mIoKfpGI/AAAAAAAAALY/c67aCblwqgk/s72-c/Lambang_kabupaten_ciamis.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5385419601583049912.post-8079509052236498800</id><published>2009-09-01T19:29:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T19:44:01.901-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='About West Java'/><title type='text'>West Java</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp3bmHz2kaI/AAAAAAAAAJg/eR2vL1n5mvg/s1600-h/lambang-jawabarat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 266px; height: 294px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp3bmHz2kaI/AAAAAAAAAJg/eR2vL1n5mvg/s320/lambang-jawabarat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376694978128286114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;West Java (Indonesian: Jawa Barat, Sundanese: Jawa Kulon), acronym jabar with population around 41.48 million (2007), is the most populous province of Indonesia, located on Java Island. It is slightly larger in area than densely populated Taiwan, but nearly double the population. Its capital city is Bandung.&lt;br /&gt;The oldest human inhabitant archaeological findings in the region were unearthed in Anyer (the western coast of Java) with evidences of bronze and iron metallurgical culture dated back to the first millennium AD.[4] The prehistoric Buni (the present-day Bekasi) clay pottery were later developed with evidences found from Anyer to Cirebon. Some artifacts (dated from 400 BC — AD 100) such as food and drink containers were found mostly as burial gifts. There is also archeological evidence in Batujaya Archaeological Site dating from the 2nd century, and according to Dr Tony Djubiantono, the head of Bandung Archeology Agency, Jiwa Temple in Batujaya, Karawang, West Java was also built around this time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Recorded history of West Java administration was started from the fourth century with the existence of Tarumanagara kingdom. Seven inscribed stones written in Wengi letters (used in the Indian Pallava period) and in Sanskrit language describe most of the kings of Tarumanagara.[4] Records of Tarumanegara's administration lasted until the sixth century, which coincides with the attack of Srivijaya as stated in the Kota Kapur inscription (AD 686).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Sunda kingdom then came into the ruling power of the region, the reference to which were found in the Kebon Kopi II inscription (AD 932).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An ulema known today as Sunan Gunung Jati settled in Banten Girang, with the intention of spreading the world of Islam in this still pagan town. In the meantime, the Sultanate of Demak from central Java grew into an immediate threat to Sunda kingdom. To defend against the threat, Prabu Surawisesa Jayaperkosa signed a treaty (known as the Luso Sundanese Treaty) with the Portuguese in 1512. In return, the Portuguese was granted an accession to build fortresses and warehouses in the area, as well as trading agreement with the kingdom. This first international treaty of West Java with the Europeans was commemorated by the placement of the Padrao stone monument at the riverbank of the Ciliwung River in 1522.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Although the treaty with Portuguese had been established, it could not come to realization. Sunda Kalapa harbour fell under the alliance of the Sultanate of Demak and the Sultanate of Cirebon (former vassal state of Sunda kingdom) in 1524 after their troops under Paletehan alias Fadillah Khan had conquered the city. In 1524/1525, their troops under Sunan Gunung Jati also seized the port of Banten and established the Sultanate of Banten which was affiliating with the Sultanate of Demak. The war between the Sunda kingdom with Demak and Cirebon sultanates then continued for five years until a peace treaty were made in 1531 between King Surawisesa and Sunan Gunung Jati. From 1567 to 1579, under the last king Raja Mulya, alias Prabu Surya Kencana, Sunda kingdom declined essentially under the pressure from the Sultanate of Banten. After 1576, the kingdom could not maintain its capital at Pakuan Pajajaran (the present-day Bogor) and gradually the Sultanate of Banten took over the former Sunda kingdom's region. The Mataram Sultanate from central Java also seized the Priangan region, the southeastern part of the kingdom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the sixteenth century, the Dutch and the British trading companies established their trading ships in West Java after the falldown of Sultanate of Banten. For the next three hundred years, West Java fell under the Dutch East Indies' administration. West Java was officially declared as a province of Indonesia in 1950, referring to a statement from Staatblad number 378. On October 17, 2000, as part of nationwide political decentralization, Banten was separated from West Java and made into a new province.&lt;br /&gt;West Java borders Jakarta and Banten province to the west, and Central Java to the east. To the north is Java Sea. To the south is the Indian Ocean. Unlike most other provinces in Indonesia which have their capitals in coastal area, the provincial capital Bandung is located in a mountainous area. Banten province was formerly part of West Java province, but was created a separate province in 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The province's landscape is one of volcanic mountains, steep terrain, forest, mountains rivers, fertile agricultural land, and natural sea harbours.&lt;br /&gt;According to the 2005 Socio-Economic Survey, West Java's population is 39,960,869, making it the most populous province in Indonesia. It has an area of 34,736 km2; aside from the province of Jakarta, it is the most densely populated province in the country with an average of 1,150 people per km2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In addition to Indonesian, the official national language, the other widely-spoken language in the province is Sundanese. In some areas near the southern borders with Central Java, Javanese is also spoken. The main language spoken in Cirebon and nearby areas (Majalengka, Indramayu, Sumber) is Cirebonese, a dialect of Javanese. Indonesian is widely spoken as a second language, except in some remote rural areas.&lt;br /&gt;Sundanese share Java island with other Malayan people: Javanese people. They primarily live in their home province of West Java. Although Sundanese live in the same island with Javanese, they consider themselves a distinct cultural area called Sunda. Someone moving from West Java Province to Central or East Java Provinces, is literally said to be moving from Sunda to Java.&lt;br /&gt;Music&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gamelan Degung Orchestra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gamelan Orchestra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;The musical arts of Sunda, which is an expression of the emotions of Sundanese culture, express politeness and grace of Sundanese. The music some of the most beautiful sounds in the world. Degung orchestra consists of Sundanese gamelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In addition to the Sundanese forms of Gamelan in Parahyangan, the region of Cirebon retains its own distinct musical traditions. Amongst Cirebons' varying Gamelan ensembles the two most frequently heard are Gamelan Pelog (a non-equidistant heptatonic tuning system) and Gamelan Prawa (a semi-equidistant pentatonic tuning system). Gamelan Pelog is traditionally reserved for Tayuban, Wayang Cepak, and for listening and dance music of the Kratons in Cirebon. Whereas Gamelan Prawa is traditionally reserved for Wayang Purwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cirebon also retains specialized Gamelan ensembles including: Sekaten, which is played in the Kratons to mark important times in the Islamic calendar. Denggung, also a Kraton ensemble which is believed to have a number of "supernatural powers". And Renteng, an ensemble found in both Cirebon and Parahyangan that is known for its loud and energetic playing style.&lt;br /&gt;Zither Ensembles&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tembang Sunda is a genre of Sundanese vocal music accompanied by a core ensemble of two kacapi (zither) and a suling (bamboo flute). Tembang means song or poem and Sunda is a geographical, historical, and cultural construct which signifies home for the Sundanese people of Indonesia. The music and poetry of tembang Sunda are closely associated with the Parahyangan (literally the abode of the gods), the highland plateau that transverses the central and southern parts of Sunda. The natural beauty of Priangan, a lush agricultural region surrounded by mountains and volcanoes, politeness and grace of Sundanese is reflected in many songs of the tembang Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kacapi suling is tembang Sunda minus vocal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarawangsa is a genuine popular art is performed on ensemble consists of tarawangsa (a violin with an end pin) and the jentreng (a kind of seven-stringed zither). It is accompanied by a secret dance called Jentreng. The dance is a part of a ritual celebrating the goddess of paddy Dewi Sri. Its ceremonial significance is associated with a ritual of thanksgiving associated with the rice harvest. Tarawangsa can also be played for healing or even purely for entertainment.&lt;br /&gt;Bamboo Ensembles&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The three main types of Sundanese bamboo ensembles are angklung, calung, and arumba. The exact features of each ensemble vary according to context, related instruments, and relative popularity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Angklung with eight pitches&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Angklung is a generic term for sets of tuned, shaken bamboo rattles. Angklung consists of a frame upon which hang several different lengths of hollow bamboo. Angklungs are played like handbells, with each instrument played to a different note. Angklung rattles are played in interlocking patterns, usually with only one or two instruments played per person. The ensemble is used in Sundanese processions, sometimes with trance or acrobatics. Performed at life-cycle rituals and feasts (hajat), angklung is believed to maintain balance and harmony in the village. In its most modern incarnation, angklung is performed in schools as an aid to learning about music.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Angklung got more international attention when Daeng Soetigna, from Bandung, West Java, expanded the angklung notations not only to play traditional pélog or sléndro scales, but also diatonic scale in 1938. Since then, angklung is often played together with other western music instruments in an orchestra. One of the first well-known performances of angklung in an orchestra was during the Bandung Conference in 1955.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Like those in angklung, the instruments of the calung ensemble are of bamboo, but each consists of several differently tuned tubes fixed onto a piece of bamboo; the player holds the instrument in his left hand and strikes it with a beater held in his right. The highest-pitched calung has the greatest number of tubes and the densest musical activity; the lowest-pitched, with two tubes, has the least. Calung is nearly always associated with earthy humor, and is played by men.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arumba refers to a set of diatonically tuned bamboo xylophones, often played by women. It is frequently joined by modern instruments, including a drum set, electric guitar, bass, and keyboards.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wayang Golek&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wayang golek is a traditional form of puppetry from Sunda. Unlike the better-known leather shadow puppets (wayang kulit) found in the rest of Java and Bali, wayang golek puppets are made from wood and are three-dimensional, rather than two. They use a banana palm in which the puppets stand, behind which one puppeteer (dalang) is accompanied by his gamelan orchestra with up to 20 musicians. The gamelan uses a five-note scale as opposed to the seven-note western scale. The musicians are guided by the drummer, who in turn is guided by signals from the puppet master dalang gives to change the mood or pace required. Wayang golek are used by the Sundanese to tell the epic play "Mahabarata" and various other morality type plays.&lt;br /&gt;Dance&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tari Merak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sundanese dance shows the influence of the many groups that have traded and settled in the area over the centuries, but remains uniquely distinctive, with its variation from graceful to dynamic syncopated drumming patterns, quick wrist flicks, sensual hip movements, and fast shoulder and torso isolations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Tari Merak (Dance of the Peacock) is a female dance inspired by the movements of a peacock and its feathers blended with the classical movements of Sundanese dance. The Tari Merak symbolises the beauty of nature.&lt;br /&gt;Folktales and Legend Stories&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are and folktales transcribed from Pantun Sunda stories). Among the most well known folktale and stories are:&lt;br /&gt;Mundinglaya Dikusumah, which tells of Mundinglaya visiting Jabaning Langit to find layang Salaka Domas. It is a symbolic story of Surawisesa visiting Malaka to establish a pace treaty with Portuguese before 1522.&lt;br /&gt;Lutung Kasarung, tells the life of a beautiful princes, in the era of Pasir Batang kingdom, a vassal of Sunda kingdom. She faces the evil of her older sister willing to seize her right as a queen.&lt;br /&gt;Ciung Wanara, tells of the fight of two princes of Sunda kingdom and the history of Brebes river or Cipamali river as a boundary between Sunda and Java territories.&lt;br /&gt;Sangkuriang, which tells the story of the creation of Mount Tangkuban Parahu and the ancient lake Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Literature&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Old Sundanese literature, among others, are:&lt;br /&gt;Bujangga Manik, which was written on 29 palm leaves and kept in the Bodleian Library in Oxford since 1627, mentioning more than 450 names of places, regions, rivers and mountains situated on Java island, Bali island and Sumatra island.&lt;br /&gt;Carita Parahyangan, telling Sundanese kings and kingdoms from the pre-Islamic period.&lt;br /&gt;Siksakandang Karesian, providing the reader with all kinds of religious and moralistic rules, prescriptions and lessons.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5385419601583049912-8079509052236498800?l=jawabarat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jawabarat.blogspot.com/feeds/8079509052236498800/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/west-java.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/8079509052236498800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5385419601583049912/posts/default/8079509052236498800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jawabarat.blogspot.com/2009/09/west-java.html' title='West Java'/><author><name>Vicky Sonya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://4.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/SVHlndA3C-I/AAAAAAAAADM/uxKTaAc4jE0/S220/images-educationkeysuccess.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LSu6d1P0xnA/Sp3bmHz2kaI/AAAAAAAAAJg/eR2vL1n5mvg/s72-c/lambang-jawabarat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
